Ketua KPK: Terima Hadiah Adalah Awal Terjadinya Korupsi :: Nusantaratv.com

Ketua KPK: Terima Hadiah Adalah Awal Terjadinya Korupsi

Firli Bahuri Mengingatkan Agar Kepala Daerah Mewaspadai Sumber Penyebab Korupsi Lainnya.
Ketua KPK: Terima Hadiah Adalah Awal Terjadinya Korupsi
Ketua KPK Firli Bahuri. (Dok. Humas KPK)

Jakarta, Nusantaratv.com - Para pejabat di birokrasi diingatkan untuk tidak menerima hadiah. Sebab, menurut Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Firli Bahuri, hadiah akan menjadi awal mula terjadinya korupsi.

Pria berusia 56 tahun itu mengutip pernyataan Presiden pertama RI Soekarno yang pernah menyebutkan korupsi adalah budaya kolonial, yakni memberi hadiah kepada pejabat.

"Saat ini penjajah sudah pergi, tapi budaya menerima upeti masih tertinggal di Indonesia. Seharusnya budaya tersebut tidak perlu diwariskan. Jadi, jangan mewarisi budaya menerima hadiah," ujar Firli, dilansir laman kpk.go.id, Kamis (5/3/2020).

Hal itu dikatakan Firli saat memberikan arahan dalam kegiatan Rapat Koordinasi Teknis Percepatan Pembangunan Tahun 2020 Regional I, pada Rabu (4/3/2020) di Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

Baca Juga: Catat! Batas Akhir 31 Maret 2020, KPK Imbau Penyelenggara Negara Segera Lapor LHKPN

Kegiatan itu diikuti 900 pejabat daerah yang terdiri atas para Sekretaris Daerah dari 18 provinsi di regional 1, Bupati/Wali Kota se-Provinsi Jawa Timur, Kepala Bappeda dari 18 provinsi di regional 1, dan OPD yang membidangi 32 urusan pemerintah konkuren dari 18 provinsi di regional 1.

Acara tersebut diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan dibuka langsung Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Deputi Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas Rudi Soepriyadi Prawiradinata.

Dalam arahannya, Firli juga mengingatkan agar kepala daerah mewaspadai sumber penyebab korupsi lainnya. Proposal permohonan pendanaan yang kerap masuk ke meja kepala daerah, menurut dia, bisa menjadi pintu masuk korupsi. Karenanya, Firli menyarankan agar proposal tersebut dibahas secara terbuka.

"Dibuka saja dalam pembahasan Musrembang. Kalau kepala daerah terima proposal, dari mana dia bisa penuhi? Biasanya menghubungi kepala dinas. Di situlah cikal bakal korupsi," tegas pria asal Prabumulih, Sumatera Selatan (Sumsel) itu. 

Menutup arahannya, Firli menegaskan keberhasilan pemberantasan korupsi bukan hanya dari berapa banyak koruptor yang ditangkap, tetapi juga ditandai tiga hal, yakni munculnya budaya antikorupsi, adanya kesadaran pada seluruh birokrasi untuk tidak melakukan korupsi, dan terbentuknya sistem yang menutup celah korupsi.

"Bapak-ibu telah dipilih dan diberikan mandat oleh rakyat untuk memimpin. Mari mulai sekarang bangun budaya antikorupsi. Jangan titipkan budaya korupsi pada generasi muda," tukas Firli.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0