Kasus Perusakan Pasraman Purwa Dharma di Banyuwangi, Kemenag Langsung Turun Tangan :: Nusantaratv.com

Kasus Perusakan Pasraman Purwa Dharma di Banyuwangi, Kemenag Langsung Turun Tangan

Kemenag Terus Melakukan Koordinasi Dengan Pihak Yayasan Maupun Musyarawah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Setempat.
Kasus Perusakan Pasraman Purwa Dharma di Banyuwangi, Kemenag Langsung Turun Tangan
Kemenag turunkan penyuluh agama terkait kasus Pasraman Banyuwangi. (Dok. Humas Kemenag)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kementerian Agama (Kemenag) melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Timur (Jatim) telah menurunkan penyuluh agama untuk melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan pihak terkait. Hal itu terkait kasus perusakan Pasraman Purwa Dharma 6, di Banyuwangi, Jatim.

"Penyuluh agama kita sudah turun langsung ke lokasi dan berkoordinasi dengan pihak-pihal terkait demi menjaga stabilitas agar tetap kondusif," ujar Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Jatim Budiono, di Sidoarjo, dilansir dari laman kemenag.go.id, Rabu (5/2/2020).

Budiono menjelaskan Kemenag terus melakukan koordinasi dengan pihak yayasan maupun Musyarawah Pimpinan Kecamatan (Muspika) setempat. Berdasarkan penelusuran yang dilakukan, Budiono mengatakan tempat pendidikan non formal bagi anak-anak umat Hindu ini tidak pernah ditolak warga.

"Mayoritas warga menerima kegiatan di sana dengan baik," lanjut Budiono.

Baca Juga: Kasus Anjing Masuk Masjid, Sang Pemilik Anjing Dinyatakan Bebas  

Sebelumnya, viral di sosial media telah terjadi pengrusakan Pasraman Purwa Dharma 6 yang berada di Dusun Sambirejo, Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi oleh oknum yang tidak dikenal.

Diberitakan oknum tersebut mengacak-acak buku, piagam penghargaan serta mencoret meja dan papan tulis. Disebutkan juga, kitab Bhagavad Gita tak luput dari perusakan yang terjadi. "Berita yang beredar tidak sepenuhnya benar. Karena tidak ada perusakan terhadap kitab suci," tutur Budiono. 

"Menurut surat keterangan yang ditulis Ketua Pasraman Gatot Witoyo, tidak ada perusakan terhadap kitab suci, serta tidak ada kerugian apa pun di Pasraman," tambahnya. 

Mengutip pernyataan Gatot Witoyo, Budiono menuturkan, kemungkinan kitab-kitab yang rusak itu karena anak-anak yang mempelajarinya kurang berhati-hati saat menggunakannya. "Mereka kurang berhati-hati dalam membawa dan membukanya, hingga lembar-lembarnya terlepas," terang Budiono.

Namun perusakan buku tulis yang biasa digunakan siswa Pasraman belajar agama, betul terjadi. "Buku-buku dirusak dengan menggunakan cutter. Demikian juga pencoretan meja dan papan tulis," tukas Budiono.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0