1.500 Hewan Ternak Divaksin untuk Antisipasi Penyebaran Antraks :: Nusantaratv.com

1.500 Hewan Ternak Divaksin untuk Antisipasi Penyebaran Antraks

Kejadian luar biasa (KLB) Antraks ini telah menjangkiti 21 warga Gunungkidul dan menyebabkan 1 warga meninggal dunia.
1.500 Hewan Ternak Divaksin untuk Antisipasi Penyebaran Antraks
Warga membawa hewan ternaknya untuk divaksinasi./klikdokter.com

Nusantaratv.com - Bermula dari ditemukannya kasus antraks pada dua ekor sapi yang mati misterius di Desa Bejiharjo. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan melakukan pencegahan dengan memberikan suntikan vaksinasi terhadap 1.500 hewan ternak di wilayah Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. 

Diharapkan dengan dilakukannya vaksinasi terhadap hewan ternak ini, wabah antraks tidak lagi menyebar. Seperti pemberitaan sebelumnya, bahwa kejadian luar biasa (KLB) Antraks ini telah menjangkiti 21 warga Gunungkidul dan menyebabkan 1 warga meninggal dunia.

“Saat ini, dilakukan pembatasan untuk ternak di Desa Gombang, sambil dilakukan pengobatan, antibiotik dan vaksin secara terbatas. Sudah lebih 1.500 kambing sapi yang divaksin antraks. Untuk orang 579 orang telah di-scan, dan dipastikan tidak menjadi bagian dalam kausus antraks,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, di gedung Kementerian Kesehatan, Senin (20/1).

Lebih lanjut, Anung menjelaskan KLB antraks yang terjadi di Gunung Kidul disebabkan kurangnya edukasi yang diperoleh masyarakat dalam mengurus hewan ternak. Terlebih, Gunung Kidul sebagai salah satu lumbung ternak di Yogyakarta belum memiliki rumah pemotongan hewan ternak formal.

“Masyarakat memang belum menyadari bahaya antraks dari kematian hewan. Jadi kotorannya ditaruh di belakang untuk pupuk. Ini juga sudah disadari oleh bupati sebagai perilaku yang tidak tepat untuk mengelola hal semacam itu,” papar Anung.

Baca Juga: Kenali 3 Gejala Antraks yang Mewabah di Gunungkidul

Anung menekankan pentingnya edukasi bagi peternak di wilayah Gunung Kidul. Untuk mencegah penyebaran antraks kepada manusia, harus dilakukan tindakan kepada hewan. Sebab, tidak ada vaksinasi untuk pencegahan penyakit antraks pada manusia.

“Kalau hewan sakit tidak dapat dipotong dan dibagikan. Pastikan hewan sehat, karena antraks ada vaksin untuk hewan, tidak dengan manusia. Petugas juga harus dipastikan melalukan sanitasi yang baik,” tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.

Selain itu, tata cara mengubur hewan yang mati juga harus diperhatikan. Bila perlu, diberikan disinfektan untuk menghindari penyebaran spora antraks.

Sumber: mediaindonesia.com

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0