Pembubaran Ormas Radikal, Begini Adu Debat Siswa Pentas PAI :: Nusantaratv.com

Pembubaran Ormas Radikal, Begini Adu Debat Siswa Pentas PAI

Debat didesain dengan menghadirkan dua kubu, pro dan kontra pembubaran ormas radikal.
Pembubaran Ormas Radikal, Begini Adu Debat Siswa Pentas PAI
Ilustrasi radikalisme. (Duta Islam)

Jakarta, Nusantaratv.com - Salah satu cabang lomba Pekan Ketrampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah debat pengetahuan agama Islam.

Mengangkat 'Keberagamaan Generasi Milenial yang Moderat' dengan sub tema 'Pembubaran Ormas Radikal', debat didesain dengan menghadirkan dua kubu, pro dan kontra. Setiap tim diminta untuk beraduargumen sesuai posisinya, pro ataukah kontra. Kondisi ini menjadikan lomba terlihat seru dan menarik.

"Bagaimana Anda setuju pembubaran organisasi kemasyarakatan yang dianggap radikal?Tidakkah tindakan seperti itu mengganggu demokrasi?" demikian salah satu contoh sanggahan tim debat kontra dalam tema pembubaran ormas radikal di Makassar, Sabtu (12/10/2019).

Kemudian tim pro menyanggahnya, 'Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani menyatakan bahwa dalam mengambil keputusan setidaknya didasarkan pada tiga landasan. Pertama, ilmu al-ulama yakni ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pendapat dan pengetahuan para ulama. Kedua, hikmat al-hukama yakni kebijaksanaan para filosof atau orang bijak. Ketiga, siyasat al-muluk yakni pertimbangan politik penguasa," tutur tim debat pro pembubaran ormas radikal dalam pembelaannya.

Baca Juga: Pentas Pendidikan Agama Islam di Makassar Bakal Diserbu Ribuan Siswa Millenial 

"Apa yang dilakukan Bung Hatta ketika tidak setuju dengan penguasa adalah contoh hikmat al-hukama. Beliau tidak mau bergabung dengan kelompok pemberontak seperti DI/TII maupun PRRI yang menginginkan pendirian negara sendiri, meski ditawari oleh mereka," lanjut argumen tersebut.

Pada lomba debat PAI ini diikuti 23 tim debat dari seluruh provinsi, yang dibagi dalam tiga babak; penyisihan, semi final, dan final. "Peserta debat terlihat menunjukkan kesiapan yang matang, baik untuk membela pendapatnya maupun untuk menolak pendapat lawannya," terang koordinator lomba debat Anis Masykhur.

Menurutnya, argumentasi yang disampaikan para siswa dalam debat menunjukkan bahwa mereka telah memiliki bacaan di atas rata-rata. Bahkan menurut Khamami Zada, salah satu dewan juri debat, opini yang disampaikan peserta di luar dugaannya.

"Saya meneliti empat tahun yang lalu, kondisinya berbeda dengan apa yang saya lihat saat ini," ungkap Khamami

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0