Vertical Farming, Solusi Pertanian di Perkotaan :: Nusantaratv.com

Vertical Farming, Solusi Pertanian di Perkotaan

Firman menjelaskan sistem vertical farming merupakan sistemm pertanian yang disusun secara vertical atau bertingkat yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan sampah anorganik berupa botol plastik bekas sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan serta dapat meningkatkan upaya penghijauan dan produktivitas pertanian bagi masyarakat.
Vertical Farming, Solusi Pertanian di Perkotaan
Vertical Farming (foto: NTV)

Jakarta, Nusantaratv.com -Lahan yang sempit sudah menjadi hal wajar bagi masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan. Keadaan ini sama seperti yang terjadi di Desa Lengkong Kulon, Kabupaten Tangerang. Berada di daerah pembangunan kawasan kota modern menjadikan desa Lengkong Kulon sangat minim lahan untuk pertanian. Namun, keadaan tersebut bukanlah suatu penghalang untuk dapat meningkatkan produktivitas pertanian. 

Surya University sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di bawah naungan Koordinasi Perguruan Tingggi Swasta (Kopertis IV) yang meliputi wilayah Jawa Barat dan Banten mencoba mengurai permasalahan tersebut dengan mengenalkan sekaligus memberikan pelatihan teknik bercocok tanam vertical farming kepada masyarakat di Desa Lengkong Kulon, Kabupaten Tangerang. 

Firman Zulfikar, peneliti Green Economy sekaligus dosen di Faculty of Green Economy and Digital Communication mengatakan bahwa sebagai universitas berbasis riset, Universitas Surya terus berupaya menciptakan inovasi untuk mengatasi permasalah-permasalahan yang terjadi di sekitar kita, salah satunya melalaui sistem cocok tanam vertical farming dan portable composter.

“Sistem vertical farming sangat cocok untuk diterapkan di daerah-daerah yang memiliki lahan sempit, ini juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan karena menggunakan botol plastik bekas”. 

Firman menjelaskan sistem vertical farming merupakan sistemm pertanian yang disusun secara vertical atau bertingkat yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan sampah anorganik berupa botol plastik bekas sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan serta dapat meningkatkan upaya penghijauan dan produktivitas pertanian bagi masyarakat. 

Firman mengatakan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian universitas kepada masyarakat serta sejalan dengan prinsip-prinsip Green Economy. Firman menyebutkan bahwa kegiatan ini didukung oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). 

Kegiatan tersebut dilaksanakan selama dua hari pada hari Sabtu (6/7/2019) hingga Minggu (7/7/2019) yang melibatkan sedikitnya 30 peserta yang terdiri dari petani, karang taruna, PKK hingga Posyandu yang antusias mengikuti pelatihan hingga praktik secara langsung. 

Salah satu peserta kegiatan yang juga penggiat komunitas hidroponik (hidrofarm), Fahri mengaku sangat senang dengan adanya pelatihan yang dilakukan oleh Surya University ini karena banyak ilmu yang didapatkan. 

“Kami sangat senang mendapatkan pelatihan dari Universitas Surya, sangat berterima kasih, ternyata masih banyak sekali ilmu yang belum kami ketahui. Kegiatan ini juga sejalan dengan komunitas yang sedang kami tekuni”. 

Firman dan Fahri berharap bahwa program pelatihan ini dapat berjalan secara berkesinambungan tidak lepas setelah kegiatan pelatihan ini sehingga masyarakat mampu meningkatkan produktivitas pertaniannya serta hasil panen menjadi penambah gizi untuk masyarakat melalui tanaman organik.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0