Kepala Pelabuhan Bantah Robohnya Tanggul Muara Baru Bisa Bikin Banjir Jakarta :: Nusantaratv.com

Kepala Pelabuhan Bantah Robohnya Tanggul Muara Baru Bisa Bikin Banjir Jakarta

Pelabuhan masih memiliki tanggul lainnya yang dinilai mampu menahan gelombang air laut
Kepala Pelabuhan Bantah Robohnya Tanggul Muara Baru Bisa Bikin Banjir Jakarta
Pihak pelabuhan, kontraktor dan pihak terkait lainnya saat memberi keterangan pers mengenai robohnya tanggul NCICD Muara Baru.

Jakarta, Nusantaratv.com - Kepala Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Muara Baru, Rahmat Irawan membantah robohnya tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Muara Baru, Jakarta Utara, mengakibatkan pemukiman warga Kecamatan Penjaringan tergenang. Ia juga menampik peristiwa itu membuat Jakarta berpotensi diterjang bencana banjir. 

Baca juga: Anies Bilang 'Anda Bukan Terjebak, Tapi Bikin Macet', PDIP: Semerawut Jakarta 

"Saya klarifikasi, jadi akibatnya robohnya tanggul ini menjadi ada warga yang tergenang dan Jakarta menjadi banjir, itu tidak benar," ujar Rahmat, Jumat (6/12/2019). 

Menurut dia, mustahil robohnya tanggul di sekitar sepanjang 176 meter itu mengakibatkan Jakarta banjir. Sebab untuk air laut menggenangi wilayah sekitar pelabuhan yang memang berbatasan langsung saja, agak sulit. Mengingat masih adanya tanggul lainnya yang sebelumnya telah dibangun. 

"Ini kondisi eksisting (penambahan) ini, tanggul (lama) ini, masih ada. Tanggul yang roboh ini tanggul yang dibangun baru. Pelabuhan masih memiliki tanggul (lama) ini, tanggul ini masih kuat 10 tahun ke depan, secara teknis," tuturnya. 

"Jadi tidak mungkin air laut menggenangi wilayah Kecamatan Penjaringan. Itu sama sekali tidak benar," imbuh Rahmat. 

Ia menjelaskan, sebelum tanggul NCICD dibangun, tanggul lama di pelabuhan diklaim cukup kuat menahan gelombang dari segala penjuru. Hal ini dibuktikan dengan peristiwa banjir yang terjadi di wilayah itu, hanya akibat dari air pasang, bukan gelombang air laut yang tinggi. 

Apabila air pasang, pihak pelabuhan telah memiliki pompa penyedot air, sehingga kurang lebih dua sampai tiga jam genangan air surut. 

Pada area sekitar tanggul yang roboh sendiri, lebih banyak kehadiran masyarakat yang beraktivitas di industri perikanan di pelabuhan. Bukan pemukiman warga, yang menurut Rahmat jaraknya lumayan jauh. 

"Apalagi terjadi (banjir akibat tanggul roboh) di kawasan Penjaringan yang semakin jauh. Karena radius dari sini ke Penjaringan itu sangat jauh, lebih kurang 2 sampai 3 km, jadi tidak mungkin," tegasnya. 

Deputy Project Manager Wika Beton-PPI KSO, selaku kontraktor tanggul, Niko Dimos, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil investigasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Ditjen SDA Kementerian PUPR), mengenai penyebab robohnya tanggul NCICD. Kementerian PUPR merupakan pemilik proyek, setelah pengembang reklamasi mundur mengerjakannya dan menyerahkan ke Pemprov DKI serta Kementerian. 

"Saat ini masih dalam penyelidikan investigasi tim PUPR SDA, untuk itu masih menunggu hasilnya. Untuk kasus ditangani PUPR Litbang SDA dan pihak konsultan yang berwenang di lokasi ini," ujar Niko. 

Pihaknya pun belum bisa memastikan kapan perbaikan dilakukan, sebab masih menunggu hasil investigasi rampung. 

"Setelah hasil itu keluar, baru kita bisa berbicara perbaikannya," tandasnya. 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
1
angry
0
sad
0
wow
0