Jakarta Banjir, Toa Kampung Melayu Tak Berfungsi :: Nusantaratv.com

Jakarta Banjir, Toa Kampung Melayu Tak Berfungsi

BPBD DKI berencana membeli alat serupa seharga Rp 4 miliar
Jakarta Banjir, Toa Kampung Melayu Tak Berfungsi
Toa peringatan dini banjir Jakarta. (Tempo)

Jakarta, Nusantaratv.com - Toa atau pengeras suara dari disaster warning system (DWS) di kawasan RW 03, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur tak berfungsi. Pada banjir Jakarta 1 Januari 2020 lalu, alat peringatan dini banjir itu tak mengeluarkan suara.

Baca juga: Siap-siap! Jakarta Diramalkan Masih Diguyur Hujan Deras 5 Hari ke Depan 

Ketua RW 03, Aga, mengatakan toa tak lagu berfungsi sejak 2016 karena kebakaran. 

"Pos kami kebakaran karena ada tawuran. Alat dan sambungan listrik ikut terbakar," ujarnya, Sabtu (18/1/2020). 

Aga mengungkapkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta suda memeriksa kondisi DWS beberapa waktu lalu. Mereka berjanji bakal memperbaiki DWS.

Adapun Kelurahan Kampung Melayu merupakan satu dari 14 titik rawan banjir yang sudah dipasangi DWS. Rencananya, BPBD DKI akan membeli alat serupa di enam kelurahan lain yang menghabiskan anggaran Rp 4,03 miliar. 

Rinciannya terdiri dari enam Stasiun Ekspansi Peringatan Dini Bencana Transmisi Vhf Radio senilai Rp 3,1 miliar; enam set pole DWS seharga Rp 353 juta; enam set Modifikasi software telementary dan Warning Console dengan Amplifier 100W senilai Rp 416 juta.

Lalu enam set Coaxial arrester DWS seharga Rp 14 juta; enam set Horn speaker 30 W senilai Rp 7 juta; enam set Storage battery 20 Ah, 24V seharga Rp 70 juta dan enam set elemen antena seharga Rp 90 juta. Alat itu akan dibangun di Bukit Duri, Kebon Baru, Kedaung Kali Angke, Cengkareng Barat, Rawa Terate, dan Marunda.

Di samping di RW 03, toa sejenis juga hadir di RW 07 Kampung Melayu. Menurut Ketua RW setempat, Majid, toa di wilayahnya masih berfungsi. Saat banjir di awal tahun lalu, seseorang sempat menyampaikan kondisi status siaga 1 dan 2 di pintu air Katulampa pada Selasa malam, 31 Desember 2019. Menurutnya suara orang yang ada di toa berasal dari BPBD.

"Jadi sistemnya online gitu. Dari BPBD DKI Jakarta disiarkan pakai toa ini," kata Majid.

Majid mengungkapkan, pengelolaan toa dilakukan oleh BPBD DKI Jakarta. Alat peringatan dini di RW 07 itu disebut sudah berdiri sejak tahun 2009. Ia menjelaskan, toa tidak bisa dioperasikan secara manual oleh warga.

"Selama ini cuma orang itu (BPBD) saja yang ngomong. Tempatnya dikunci juga," tandasnya. (Tempo) 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
1
wow
0