Dinilai Janggal, Proyek Revitalisasi Monas Dilaporkan ke KPK :: Nusantaratv.com

Dinilai Janggal, Proyek Revitalisasi Monas Dilaporkan ke KPK

Profil perusahaan kontraktor dinilai tak jelas
Dinilai Janggal, Proyek Revitalisasi Monas Dilaporkan ke KPK
Revitalisasi Monas yang salah satunya dengan menebang 190 pohon.

Jakarta, Nusantaratv.com - Tim Advokasi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta melaporkan pengerjaan revitalisasi Monumen Nasional (Monas) oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Proyek tersebut dinilai janggal, salah satunya karena profil perusahaan kontraktor yang tak jelas. 

Baca juga: Puan Minta Anies Kembalikan Monas ke Aslinya 

"Perusahaan kontraktor iya, tadi soalnya ada dugaan soal alamat kantor kontraktor itu tidak jelas. Tapi ada SKPD terkait juga. Kenapa bisa meloloskan lelang untuk perusahaan itu?" kata anggota Tim Advokasi PSI DKI, Patriot Muslim, di Gedung KPK, Kamis (23/1/2020). 

Menurut Patriot, kedatangannya ke KPK lantaran hendak meluruskan isu yang beredar. 

"Kalau memang ada pelanggaran ya diusut, kalau pun memang gak ada ya harus ada keterangan dari KPK," tuturnya.

Perusahaan kontraktor proyek revitalisasi Monas yakni PT Bahana Prima Nusantara. Perusahaan itu dinilai bermasalah karena alamat kantor pemenang lelang itu dianggap tak jelas. Sehingga, rumor yang berkembang, kontraktor itu diduga merupakan perusahaan kertas atau perusahaan bendera. 

"Itu kan menyalahi aturan lagi kalau memang seperti itu," ucap Patriot.

Sejumlah dokumen diserahkan ke KPK guna mendukung pelaporan. Antara lain dokumen dari LPSE, penelusuran Tim Advokasi PSI DKI, dan beberapa tautan berita dari media. 

"Memang masih harus banyak yang didalami, makanya kita pengin sinergis dengan KPK supaya bisa membuktikan masalah ini. Karena jangan sampai kita menduga-duga ada kecurigaan, terus akhirnya masyarakat jadi resah," tandasnya.

Diketahui, pada awal 2019, Pemprov DKI menganggarkan Rp147 miliar untuk proyek revitalisasi Monas. Saat akhir tahun, anggaran itu berubah menjadi Rp71 miliar karena dianggap tak sanggup diselesaikan.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0