Kontras: 643 Kekerasan Polri Akibatkan 651 Orang Tewas :: Nusantaratv.com

Kontras: 643 Kekerasan Polri Akibatkan 651 Orang Tewas

Kontras paparkan kinerja Polri menyikapi HUT Bhayangkara ke-73
Kontras: 643 Kekerasan Polri Akibatkan 651 Orang Tewas
Logo KontraS

Jakarta, Nusantaratv.com - Pada HUT Bhayangkara ke-73, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menyoroti 643 peristiwa kekerasan oleh Polri. Kasus yang terjadi periode Juni 2018-Mei 2019, memakan korban tewas 651, 247 luka-luka dan 856 ditangkap.

"Dalam laporan ini, kami menemukan adanya penggunaan senjata tajam oleh Polri, pembatasan ekspresi warga seperti demonstrasi. Kami juga memotret kinerja lembaga di internal dan eksternal baik di tingkat Polsek, Polres maupun Polda di seluruh daerah," ujar Kordinator Kontras Yati Andriyani di Jakarta, Senin (1/7/2018).

Temuan ini, kata Yati, mengacu laporan masyarakat sipil dan sebagai bagian dari partisipasi untuk mendorong akuntabilitas Polri dalam menjalankan tugas dan fungsi. Laporan terbagi dalam tiga hal.

Pertama, Kontras menyoroti adanya keterlibatan aparat kepolisian dalam praktik penyiksaan serta kesewenang-wenangan dalam menafsirkan dan menggunakan diskresi. Kesewenang-wenangan itu mengakibatkan korban luka juga tewas.

Lalu, Kontras menyoroti adanya kekerasan penanganan ekspresi warga dalam demonstrasi, unjuk rasa, dan bentuk ekspresi warga lainnya. Hal ini dinilai itu bertentangan dengan fungsi Polri yakni untuk melindungi masyarakat.

Ketiga, Kontras pun menyoroti kinerja lembaga pengawas internal dan eksternal. Kontras menilai lembaga pengawas internal dan ekstrenal lemah dalam menjalankan fungsi korektif atas tindakan dan kebijakan yang tidak sesuai ketentuan oleh institusi kepolisian.

Di samping itu pada tahun politik, Kontras menyoroti tantangan luar biasa yang dihadapi Polri dalam menjaga independensi mereka sebagai penegak hukum serta memberi pelayanan kepada masyarakat. Kontras paling menyoroti kinerja Polri dalam penggunaan diskresi ketika menangani kerusuhan 21-22 Mei.

Menurut Kontras, kontroversi yang timbul dari penanganan kasus tersebut mengakibatkan munculnya sentimen negatif di salah satu kubu. "Ini menjadi ujian cukup berat untuk menjaga netralitas di tengah polarisasi masyarakat, betul-betul menantang netralitas kepolisian," tandas Yati. (Rizk)

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0