Gelar Kompetisi Peradilan Semu, Otto: Sumbangsih Peradi ke Pendidikan Advokat :: Nusantaratv.com

Gelar Kompetisi Peradilan Semu, Otto: Sumbangsih Peradi ke Pendidikan Advokat

Upaya ini menurut Fauzie juga sebagai kritik terhadap lulusan fakultas hukum
Gelar Kompetisi Peradilan Semu, Otto: Sumbangsih Peradi ke Pendidikan Advokat
Otto Hasibuan.

Jakarta, Nusantaratv.com - National Moot Court Competition (NMCC) atau kompetisi peradilan semu tingkat nasional digelar Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Pesertanya sebanyak 32 tim moot court, dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Tanah Air.

Baca juga: Otto Hasibuan Harap Juara NMCC Peradi Tak Puas Diri 

Perlombaan ini berlangsung sejak September 2019, hingga akhirnya pengumuman pemenangnya dilakukan pada hari ini, Minggu (9/2/2020). 

Ketua Dewan Pembina Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi Otto Hasibuan, mengatakan kompetisi peradilan semu dalam bidang tata usaha negara ini sebagai wujud nyata kontribusi organisasi terhadap bangsa. 

"Dengan adanya ini, ini sumbangsih Peradi kepada pendidikan advokat, kepada mahasiswa, agar mahasiswa lebih awal dipersiapkan lebih maju. Setelah dia nanti tamat sekolah bisa mengetahui dunia praktik," ujar Otto di sela pengumuman pemenang NMCC, Hotel Ciputra, Grogol, Jakarta Barat, Minggu (9/2/2020). 

Praktik sidang melalui peradilan semu dan kompetisinya, menurut Otto wajib dilaksanakan. Terutama bagi mahasiswa fakultas hukum di seluruh perguruan tinggi Indonesia. Sebab selain teori, mereka harus memahami praktiknya. 

"Walaupun kompetisinya bisa dilakukan oleh seperti Peradi, oleh Mahkamah Agung oleh siapa saja, tapi di fakultas masing-masing itu sudah harus ada moot court sendiri. Karena itu sangat baik, di luar teori dia tahu bagaimana cara berpraktik di pengadilan," jelasnya.

Meski begitu, menurut Otto tak cukup sebatas memberikan bekal ilmu hukum kepada para mahasiswa. Mereka, kata dia juga harus diberikan pemahaman tentang etika. 

"Tidak hanya dikasih ilmu hukum, tapi kita harus masukkan kepada dia etika profesi kejujuran dan moral," ucapnya. 

"Karena seorang advokat yang handal pun meskipun dia pintar, kalau dia tidak jujur, tidak punya moral yang baik, tidak punya etika yang baik, maka itu akan sangat berbahaya untuk masyarakat. Jadi harus paralel," sambung Otto.

Sementara, Ketua Umum DPN Peradi, Fauzie Yusuf Hasibuan mengatakan NMCC digelar sebagai salah satu cara organisasi mengkritisi lulusan ilmu hukum Indonesia, yang dianggap tak sesuai ekspektasi dunia kerja. 

"Ini merupakan kritikan dalam rekrutan S1, tamatan S1 dan S2, di mana dia belum bisa memberikan pengabdian yang mendekati sesuai harapan penegakan hukum," ujar dia. 

Fauzie pun berharap agar program ini bisa dilanjutkan pemimpin Peradi selanjutnya. 

"Siapa pun jadi ketua umum Peradi, saya merekomendasikan untuk melanjutkan program ini," tandasnya. 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0