Dugaan Suap Perindo, Tim Pengacara Mujib: Tuduhan KPK Belum Sepenuhnya Benar :: Nusantaratv.com

Dugaan Suap Perindo, Tim Pengacara Mujib: Tuduhan KPK Belum Sepenuhnya Benar

Mujib mengaku diminta membantu Risyanto menaikkan pendapatan Perum Perindo
Dugaan Suap Perindo, Tim Pengacara Mujib: Tuduhan KPK Belum Sepenuhnya Benar
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang (kanan) saat konferensi pers kasus dugaan suap Dirut Perum Perindo Risyanto Suanda. (Tribunnews)

Jakarta, Nusantaratv.com - Tim penasehat hukum Direktur PT Navy Arsa Sejahtera (NAS) Mujib Mustofa yang diwakili Makhsyar Hadi, mengungkapkan kliennya adalah seorang pengusaha yang bergerak di sektor jasa kepabeanan. Usia Mujib juga relatif muda, ia juga belum lama menjalankan usaha tersebut.

"Kegiatan usaha yang PT Arsa jalankan adalah dalam bidang usaha jasa kepabeanan atau custom clearance, bukan importir," ujar Makhsyar di Jakarta, Sabtu (5/10/2019). 

Pertemuan dengan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) Risyanto Suanda sendiri, menurut kliennya, terjadi karena pria yang telah diberhentikan dari jabatannya itu kerap menghubungi Mujib. Ajakan pertemuan Risyanto ke Mujib, disebut berkali-kali dilakukan, dan selalu ditolak kliennya.

"Adapun pertemuan dengan Dirut Perindo, RS, dikarenakan yang bersangkutan selalu menghubungi, bahkan mendesak MM untuk bertemu," tutur Makhsyar.

Diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Risyanto, Mujib dan sejumlah orang lainnya, dalam kaitan kuota impor ikan jenis frozen pacific mackerel atau ikan salem. Menurut Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, dari setiap kilogram ikan salem yang diimpor PT Navy Arsa Sejahtera (NAS), Risyanto menerima Rp 1.300. Kuota yang diberikan Perindo kepada PT NAS rencananya sebanyak 500 ton, untuk bulan Oktober 2019. Sebelumnya, PT NAS diberi jatah kuota impor sebanyak 250 ton untuk Mei 2019. 

PT NAS sendiri, dikatakan Saut masuk daftar hitam impor ikan karena pada 2009 melakukan impor melebihi kuota. Akibatnya perusahaan itu tak lagi bisa melakukan aktivitas impor. Sebagai barang bukti, diamankan uang senilai USD 30 ribu.

Makhsyar menjelaskan, Mujib mengaku tertekan dengan ajakan pertemuan Risyanto melalui panggilan telepon, yang dilakukan secara intens dan mendesak.
 
"MM yang memang merasa tertekan karena yang menghubungi dirinya adalah seorang direktur BUMN (Perindo). Akhirnya MM memenuhi permintaan RS untuk bertemu, dan setelah MM bertemu, RS meminta bantuan kepada MM untuk menaikkan revenue (pendapatan) Perindo dan juga meminta uang sebanyak USD 30 ribu kepada MM, dan RS menjanjikan akan memberikan kuota impor ikan kepada MM," jelasnya.

Atas itu, Makhsyar dan tim penasehat hukum lainnya mengimbau semua pihak tak mengambil kesimpulan terlalu dini, apalagi sampai memvonis kliennya sebagai pelaku kejahatan. Mengingat, semua yang disampaikan KPK melalui pemberitaan yang ada, belum dibuktikan di persidangan. 

Terlebih, Mujib selama ini dianggap memiliki rekam jejak cukup baik, khususnya dalam aktivitas sosial dan kemanusiaan.

Baca juga: Bos BUMN Terjerat KPK, Sri Mulyani: Pengkhianat

"Perlu juga masyarakat ketahui, MM pun adalah seorang yang sederhana dan dermawan yang memiliki banyak anak asuh yatim-piatu dalam Pondok Pesantren Ibadurrahman di Blitar, Jawa Timur, dan juga di Kediri. Selain itu, MM juga turut berkontribusi dalam mencetak atlet-atlet dayung bagi Indonesia di Jatiluhur, Jawa Barat dan memberdayakan masyarakat dhuafa di sekitarnya," tandasnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0