Diduga Menipu, Ketua Organisasi Advokat Dipolisikan :: Nusantaratv.com

Diduga Menipu, Ketua Organisasi Advokat Dipolisikan

RAMP diduga menggelapkan uang Rp 750 juta
Diduga Menipu, Ketua Organisasi Advokat Dipolisikan
Gedung Polda Metro Jaya. (Tempo)

Jakarta, Nusantaratv.com - Ketua salah satu cabang Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) berinisial RAMP, dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada 1 Juli 2019. RAMP dilaporkan pria berinisial KS, karena diduga menipu atau menggelapkan uang sebesar Rp 750 juta. Laporan bernomor polisi: LP/3924/VII/2019/Dit Reskrimsus. 

Baca juga: Satgas Antimafia Bola III Bakal Kerja Bareng Pom TNI 

Menurut KS, peristiwa ini bermula kala urusan pertanahannya terhambat. RAMP yang kepadanya mengaku memiliki kenalan pejabat Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), yang mampu menyelesaikan masalahnya. 

KS mengenal RAMP melalui temannya, saat berada di Bali pada 2017 silam. 

"Berjalannya waktu dia bilang pejabat itu minta uang dia buka Rp 1 miliar. 'Enggak' saya bilang, saya nggak punya duit. 'Yaudah kira-kira berapa you sanggup?', saya bilang 'Rp 750 juta', dia langsung bilang 'Iya'," ujar KS di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (20/2/2020). 

"Saya juga bingung kok orang lain yang minta, kok dia yang putuskan. Itu saya sempat curiga. Tapi enggak mungkin deh. Saya kan masih teman," imbuhnya. 

Uang dengan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) diserahkan pada dua tahap, pertama 1 Juni 2018 sebesar USD 36.450 USD, lalu 8 Juni 2018 sebesar USD 18.215. 

Namun berjalannya waktu, tak ada perkembangan positif dari persoalan KS, kendati uang telah diberikan. KS pun mempertanyakan hal itu ke RAMP. 

"Dia jawab 'Tugas aku sudah selesai', karena cuma ngasih duit," ucap KS. 

Karena merasa janggal, KS pun memberanikan diri bertanya kepada pejabat tersebut. Rupanya benar dugaannya. 

"Kita curiga, kita masuk ke dalam, pejabat itu bilang 'Saya kapan minta (uang)?'. Nggak pernah minta dan nggak pernah terima. Sehingga kami tahu kalau ini disikat sama dia (RAMP)," jelasnya. 

Kasus ini sendiri ditangani Subdit Fismodev Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Penanganannya sudah dalam tahap penyidikan. 

KS berharap proses hukum terhadap RAMP berjalan cepat. Agar korban-korban lainnya tak muncul kembali.

"Ini orang banyak masalah, kliennya banyak yang cerita. Padahal setelah masalah itu, dia masih sempat pinjam uang Rp 200 juta, dan saya kasih," tandasnya.

Sementara RAMP, irit bicara saat dikonfirmasi mengenai persoalan yang menjeratnya. 

"Saat ini saya no comment, kalau memang dia merasa dirugikan biarkan proses hukum berjalan, saya buru-buru mau ke bandara," ujarnya usai pemanggilan penyidik Subdit Fismodev Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (20/2/2020). 

Ketua Umum DPP AAI M. Ismak mengaku belum mengetahui pelaporan jajarannya. "Dilaporkan ke Polda? Wah saya baru tahu ini info?" kata dia. 

Semalam, Ismak mengaku telah bertemu dengan RAMP, saat rapat di kantor DPP, namun tak ada pembahasan mengenai hal itu. 

Ismak menegaskan, AAI memiliki mekanisme tersendiri apabila ada anggota maupun pengurus yang melakukan pelanggaran. Jika pelanggaran menyangkut organisasi, akan ditindak secara etik oleh dewan kehormatan. Namun apabila atas nama pribadi, proses dan sanksinya ditanggung sendiri. 

"Jadi kalau ada laporan masyarakat ke DPP, yang bersangkutan akan diadili oleh dewan kehormatan organisasi. Di situ akan terlihat sejauhmana kesalahan dia, jika itu sangat fatal kemungkinan bisa dipecat sebagai anggota AAI," tandas Ismak.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
1
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0