Tak Ingin Situasi Makin Buruk, Indonesia Minta Semua Pihak Cegah Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah :: Nusantaratv.com

Tak Ingin Situasi Makin Buruk, Indonesia Minta Semua Pihak Cegah Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah

Presiden Jokowi Menyinggung Masalah Ketegangan di Timur Tengah Dalam Pertemuan Dengan Pangeran Sheikh Mohammed Bin Zayed.
Tak Ingin Situasi Makin Buruk, Indonesia Minta Semua Pihak Cegah Eskalasi Ketegangan di Timur Tengah
Menlu Retno L.P. Marsudi. (Rahmat/Humas)

Jakarta, Nusantaratv.com - Indonesia berusaha melakukan berbagai upaya mencegah eskalasi ketegangan di Timur Tengah pascaserangan drone Amerika Serikat (AS) yang menewaskan jenderal senior Iran, Qassem Soeleimani, di Baghdad, Irak, awal bulan ini.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Lestari Priansari Marsudi, mengatakan Indonesia sudah berbicara dengan AS serta Iran di tingkat Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan telah berusaha mendorong semua pihak agar eskalasi yang lebih buruk tidak terjadi lagi.

"Saya melakukan pembicaraan per telepon pada tanggal 8 malam berarti 9 pagi, karena pada saat itu Menteri Luar Negeri Vietnam baru mendarat di New York. Vietnam untuk bulan Januari ini bertindak sebagai Presiden dari Dewan Keamanan PBB. Saya melakukan pembicaraan, saya mengulangi lagi spot Indonesia terhadap presidency Vietnam," ujar Menlu Retno Marsudi, di Emirate Palace, Abu Dhabi, UEA (Uni Emirat Arab), Minggu (12/1/2020) malam. 

Indonesia, lanjut Menteri kelahiran Semarang, Jawa Tengah (Jateng), 57 tahun silam itu, mengharapkan Vietnam juga menggunakan pengaruhnya sebagai Presiden Dewan Keamanan PBB agar semua pihak yang terkait dapat menahan diri sehingga tidak terjadi lebih buruk lagi. 

Baca Juga: Berikut Ini Rangkaian Pertemuan Bilateral Presiden Jokowi di UEA

"Jadi, kita cukup banyak untuk mengirimkan pesan, untuk meng-encourage agar eskalasi yang lebih jelek tidak terjadi lagi," tambahnya. 

Sementara itu, mengenai apakah masalah tersebut dibicarakan dengan UEA, Menlu Retno Marsudi menyebut, pada pertemuan dengan Menlu UEA dirinya juga membahas masalah tersebut, dan prinsip keduanya sama. 

"Kita tidak ingin situasi, apa namanya, menjadi lebih memburuk," tegas jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi), ungkap Menlu Retno Marsudi, juga sedikit menyinggung masalah ketegangan di Timur Tengah tersebut dalam pertemuan dengan Pangeran Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ). Namun pembahasan ini tidak fokus, karena fokus pembahasan dalam pertemuan keduanya lebih kepada masalah ekonomi. 

Dijelaskan Menlu, semua negara khawatir dengan kemungkinan terjadinya perang terbuka antara AS dan Iran. Indonesia yang posisinya jauh juga khawatir karena perang tidak akan menguntungkan siapapun. 

"Perang itu akan berpengaruh pasti terhadap ekonomi dunia yang sudah tanpa perang pun sudah tertekan, tertekan terus ke bawah," tuturnya. 

Buat Indonesia, menurut Menlu Retno Marsudi, yang sangat langsung dirasakan adalah nasib warga negara Indonesia (WNI). Karena di Iran, berdasarkan data yang ada, jumlah WNI yang ada di sana itu lebih dari 400. Sementara yang di Irak lebih dari 800. Namun diperkirakan jumlah yang ada pasti lebih besar dari data yang diterimanya. 

"Belum lagi kita bicara mengenai WNI yang tinggal di sekitar wilayah itu yang kalau ditotal bisa jumlahnya jutaan. Jadi, kalau situasinya tidak dapat dieskalasi, diredakan maka pasti akan terpengaruh kepada warga negara kita, tetapi sekali lagi untuk antisipasi," tukas Menlu Retno Marsudi.
 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0