Soal Perayaan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung, Ini Kata Kakanwil Sumbar :: Nusantaratv.com

Soal Perayaan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung, Ini Kata Kakanwil Sumbar

Kakanwil Kemenag Sumbar Hendri Mengaku Pihaknya Sudah Membentuk Tim yang Meninjau Lokasi.
Soal Perayaan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung, Ini Kata Kakanwil Sumbar
Kakanwil Kemenag Sumbar Hendri. (Riki/Dok. Humas Kemenag)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sumatera Barat (Sumbar) Hendri mengatakan Kemenag bersama Forkopinda, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dan tokoh masyarakat sudah membahas persiapan perayaan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung.

Rapat Koordinasi (Rakor) digelar pada Senin (16/12/2019), sebelum mencuat info pelarangan di media. Menurut Hendri, rakor berlangsung di Gedung UDKP Kecamatan Kamang Baru. Hadir juga, perwakilan masing-masing agama, ninik mamak, pemuda, dan perwakilan Kesbangpol.

Rakor menyepakati untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban serta kerukunan umat beragama. Pelaksanaan ibadah umat Kristen tidak dilarang. Namun, kalau berjamaah silakan dilaksanakan di tempat resmi yang sudah disepakati - ujar Hendri di Padang, seperti dilansir laman Kemenag, Minggu (22/12/2019).

Lebih lanjut, ungkap Hendri, Rakor digelar rutin setiap menjelang perayaan hari besar, termasuk Natal. Khusus Natal di Dharmasraya dan Sijunjung, ada kesepakatan yang sudah berlangsung sejak 2005 antara tokoh masyarakat Nagari Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, dengan umat kristiani yang berasal dari warga transmigrasi di Jorong Kampung Baru.

Baca Juga: Menag Fachrul Razi Minta Masyarakat Tak Permasalahkan Ucapan Natal 

Kesepakatan itu juga dibahas dalam Rakor. Dikatakan Hendri, masyarakat bersepakat untuk tidak melarang satu sama lain melakukan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing di rumah masing-masing.

Namun, jika dilakukan berjamaah atau mendatangkan jamaah dari tempat lain, maka pelaksanaannya di rumah ibadah resmi (gereja) dan memiliki izin dari pihak terkait.

Dijelaskan Hendri, rumah ibadah berbeda dengan tempat ibadah. Kalau tempat ibadah, maka setiap umat beragama bebas menjalankan ibadah di mana saja. Berbeda dengan itu, rumah ibadah terkait tata kota, tata ruang, IMB, dan lainnya, juga dari sisi sosial.

Karena, menurut Hendri, kalau konsepnya rumah ibadah, maka bangunan itu adalah bangunan khusus sebagai tempat akomodasi ritual keagamaan agama tertentu.

Rumah ibadah juga menjadi tempat penyelenggaraan ritual keagamaan yang tidak hanya diikuti satu dua orang, tapi bisa mencapai ratusan orang. Hal ini, langsung atau tidak langsung akan terkait dengan persoalan sosial di lingkungan sekitarnya.

Karena di Dharmasraya tidak ada rumah ibadah berupa gereja, maka masyarakat bersepakat perayaan Natal bersama itu dilakukan di Sawahlunto, bukan di Dharmasraya dan Sijunjung. Karena di dua kabupaten itu nggak ada gerejanya - jelasnya. 

Jadi kami sudah bermusyawarah, membahas perayaan Natal di Dharmasraya dan Sijunjung - tambah Hendri.

Terkait munculnya info pelarangan ini, Hendri mengaku bahwa pihaknya sudah membentuk tim yang meninjau lokasi. Tim ini terdiri atas Kasubbag Kerukunan Umat Beragama, Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Sumbar, Kasi Kepenghuluan, dan Kasi Kemitraan Umat.

Alhamdulillah, masyarakat sampai saat ini aman dan rukun - tukas Hendri. 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0