Soal Larangan Cadar, Menag Fachrul Razi Diminta Hati-Hati :: Nusantaratv.com

Soal Larangan Cadar, Menag Fachrul Razi Diminta Hati-Hati

Rumadi Ahmad menegaskan Menag Fachrul Razi perlu berhati-hati mengenai wacana pelarangan penggunaan cadar.
Soal Larangan Cadar, Menag Fachrul Razi Diminta Hati-Hati
Menag Fachrul Razi mewacanakan pelarangan penggunaan cadar. (Dok. Humas Kemenag)

Jakarta, Nusantaratv.com - Dalam beberapa hari terakhir ini, masyarakat dibuat gaduh dengan wacana larangan penggunaan cadar oleh Menteri Agama (Menag) Jenderal (Purn) Fachrul Razi. Dia berdalih kebijakan ini lebih pada masalah keamanan.

Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), turut menanggapi persoalan ini. Rumadi menegaskan Menag Fachrul Razi perlu berhati-hati dalam persoalan ini.

"Tidak semua cadar identik dengan radikalisme, apalagi terorisme," ujar Rumadi, dilansir dari NU Online, Jumat (1/11/2019).

Sebab, lanjut Rumadi, ada juga beberapa pesantren yang santriwatinya memakai cadar, seperti di Aceh Utara, Jember, dan sebagainya. Bagi mereka, sambung Rumadi, cadar dianggap lebih sebagai ekspresi budaya biasa. Sementara ideologinya tetap Pancasila dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Kendati begitu, Rumadi mengetahui bahwa cadar juga ada yang menggunakannya sebagai bentuk keyakinan atas ideologi tertentu.

Baca Juga: Fachrul Razi Wacanakan Larangan Cadar di Instansi Pemerintah, Begini Tanggapan PBNU

"Saya juga tidak bisa menutup mata bahwa ada perempuan memakai cadar sebagai ekspresi ideologi tertentu yang cenderung radikal," jelas Rumadi seraya menekankan sebetulnya penggunaan cadar hanya bagian permukaan saja dari radikalisme itu, bukan akar persoalannya. Karena itu, menurut dia, pelarangan bisa salah alamat.

"Jadi, melarang cadar dianggap sebagai memerangi radikalisme bisa salah alamat kalau tidak cermat," tutur pria asal Jepara, Jawa Tengah (Jateng) itu.

Pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta itu mengungkapkan memang tidak ada pendapat tunggal soal hukum penggunaan cadar. 

Sebab pada awalnya, cadar lebih sebagai persoalan budaya. Namun seiring berkembangnya waktu, cadar kemudian diideologisasi sebagai ajaran iman. "Diideologisasi bagi yang memahami kalau cadar itu sebagai kewajiban iman yang dia yakini," imbuhnya.

Menurut Rumadi, cadar jika dilihat semata sebagai ekspresi radikalisme bisa menjadi eksesif, melampaui kebiasaan. "Bisa eksesif kalau cadar semata dilihat sebagai ekspresi ideologi radikalisme. Maka pemahaman soal cadar juga perlu diperiksa," tukas Rumadi.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0