Peneliti: Orang yang Tertular Corona di RI Diperkirakan Sudah Ratusan Ribu :: Nusantaratv.com

Peneliti: Orang yang Tertular Corona di RI Diperkirakan Sudah Ratusan Ribu

Mereka tak terdeteksi karena minimnya tes covid-19 dilakukan
Peneliti: Orang yang Tertular Corona di RI Diperkirakan Sudah Ratusan Ribu
Kerumunan penumpang KRL yang masih terjadi di tengah wabah virus corona. (Instagram @jktinfo)

Jakarta, Nusantaratv.com - Peneliti Inggris memperkirakan jumlah orang yang tertular virus corona di Indonesia namun tak terdeteksi, sebenarnya mencapai puluhan ribu sampai ratusan ribu kasus.

Baca juga: Corona di RI Kian Memburuk, Lockdown Seharusnya Sudah Bisa Dilakukan 

Orang-orang ini tak diketahui, lantaran rendahnya tingkat pengetesan oleh pemerintah Indonesia.
 
Hal ini dibeberkan peneliti Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular (CMMID) London, Inggris.

Mereka mengembangkan pemodelan matematika guna memprediksi secara kasar kemungkinan jumlah kasus penyebaran corona di suatu negara, berdasarkan jumlah kematian.

Menurut pemodelan itu, satu kematian yang dikonfirmasi di suatu negara seperti Indonesia, sebenarnya bisa dipakai untuk menghitung beban kasus yang sesungguhnya.
 
Pemodelan ini mempersoalkan tingginya persentase tingkat kematian akibat corona di Tanah Air. Mereka memperkirakan tingginya angka kematian tersebut disebabkan pemerintah kurang agresif melakukan pengetesan orang-orang yang diduga terjangkit covid-19. 

Mengacu pada data, angka kematian covid-19 di negara ini merupakan yang tertinggi di dunia dengan persentase mencapai 11,4 persen atau 78 kematian dari 893 kasus, hingga Kamis (26/3/2020). Tapi, jumlah pengujian corona di Indonesia termasuk yang terendah di dunia. 

Pekan lalu, Indonesia baru melakukan 1.727 tes. Apabila dibandingkan dengan jumlah total penduduk, baru satu orang di tes dari 156 ribu orang.

Sehingga, diperkirakan masih banyak penderita corona yang belum diketahui. Pembelian 150 ribu alat tes dari China diharapkan bisa mempercepat identifikasi mereka yang diduga mengidap corona.

Prediksi pemodelan CMMID bergantung pada dua variabel kunci, yaitu tingkat kematian dan tingkat penularan, serta mengukur berapa banyak orang yang kemungkinan akan terinfeksi oleh satu orang

Mereka lalu membandingkan tingkat kematian di Indonesia ini dengan data kematian covid-19 WHO sebesar 3 persen (3 kematian per 100 kasus). Kendati demikian, para ahli virologi dan epidemologi percaya tingkat kematian virus ini di bawah 1 persen.

Tingkat penularan corona juga diperkirakan ada di angka 2 dan 3, yang artinya tiap pasien positif, menularkan kepada dua atau tiga orang lain. 

Kombinasi dua data ini, digabungkan dengan angka kematian di Indonesia, sehingga para ahli memprediksi sesungguhnya tingkat penularan corona di Indonesia sudah lebih tinggi. 

Perkiraan konservatif, menurut pemodelan CMMID dengan tingkat kematian Covid-19 sebesar 1 persen dan tingkat penularan kepada 2 orang memprediksi telah ada 70.848 kasus virus corona baru di Indonesia.

Sedangkan apabila angka tingkat infeksi ditingkatkan ke angka 3, maka kemungkinan terdapat 251.424 kasus di Indonesia. Dimana satu kematian covid-19 bakal menunjukkan ada 5.238 kasus di masyarakat. Nilai sebenarnya kemungkinan berada di antara keduanya.

Angka ini didapat berdasarkan data kematian corona pada Senin (23/3/2020). Ketika itu, data kematian di Indonesia masih di angka 48 orang.

Associate CMMID profesor Stefan Flasche mengatakan bahwa jumlah kasus virus corona baru akan meningkat dua kali lipat setiap tujuh hari.
 
"Orang akan berharap bahwa kira-kira enam kematian yang dilaporkan per hari yang Anda lihat saat ini [di Indonesia] akan meningkat menjadi 12 kematian per hari minggu depan  dan 24 kematian per hari setelahnya. (Itu akan berhenti) kecuali ada upaya besar yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran melalui misalnya, social distancing," ujarnya.

Ketika ditanya kemungkinan ada 1 juta kasus di Indonesia pada akhir April, menurutnya hal itu mungkin terjadi. Kemungkinan ini berkaca dari tingginya populasi di Indonesia dengan 270 juta penduduk.

"Mungkin membuat semi-masuk akal, sebagai skenario terburuk," ucapnya.

Profesor Niall Ferguson dari Imperial College di London, Inggris, juga mengamini perhitungan ini. Menurut dia, satu kematian menunjukkan setidaknya seribu kasus di masyarakat dengan asumsi tingkat kematian 1 persen.

"Kami kira epidemi tanpa adanya pengukuran. Mungkin akan naik dua kali lipat tiap lima hari dan hanya satu dari 100 orang yang terinfeksi akan meninggal," tuturnya.

"Jika penderita sudah menunjukkan gejala, butuh 20 hari atau lebih hingga mereka meninggal. Sehingga angka kematian hari ini menunjukkan epidemi yang terjadi 20 hari lalu," imbuh dia.

"Epidemi saat itu (20 hari lalu) pasti 10 kali lebih kecil. Jika dikalikan dengan angka 100 angka kematian, maka didapat faktor pengali 1.000 kasus," kata dia.

Menteri Kesehatan sebelumnya memprediksi kemungkinan 700 ribu kasus di Indonesia. Tapi ia tak menjelaskan kapan Indonesia akan mencapai angka ini.

Mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd memperingatkan bahwa situasi yang ada di Indonesia bisa berdampak serius bagi Australia.
 
"Teman dan tetangga kita Indonesia, populasi 275 juta, sekarang berada di puncak bencana virus corona yang tinggi. Ini memiliki implikasi keamanan nasional yang besar bagi Jakarta dan Canberra. Ini akan membutuhkan solidaritas dan diplomasi yang sangat terampil di masa depan," tandas Rudd. (News/ABC).

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
1
sad
2
wow
0