Pelanggan Keluhkan Tagihan Listrik Membengkak, Ini Jawaban PLN :: Nusantaratv.com

Pelanggan Keluhkan Tagihan Listrik Membengkak, Ini Jawaban PLN

Menurut PLN jumlah tersebut sesuai perhitungan rata-rata tiga bulan
Pelanggan Keluhkan Tagihan Listrik Membengkak, Ini Jawaban PLN
Ilustrasi meteran listrik. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Masyarakat mengeluhkan melonjaknya tagihan listrik awal Mei 2020. Terutama pelanggan listrik pascabayar.

Baca juga: Atasi Dampak Corona, Jokowi Gratiskan Listrik Rakyat Miskin 3 Bulan 

Hal ini seiring meningkatnya aktivitas kerja dan belajar di rumah masing-masing. 

Bahkan, tagihan listriknya ada yang hampir dua kali lipat. PLN pun dituduh menaikkan tarif secara diam-diam.

Merespons hal ini, PLN membantah adanya kenaikan tarif listrik. Namun, PLN mengakui ada tambahan tagihan listrik pada April. 

Karena, sejak Maret, PLN tak lagi mengirim petugas pencatat meteran ke lapangan guna mencegah penularan covid-19.

Sebagai gantinya, PLN menagih sesuai rata-rata pemakaian pelanggan dalam 3 bulan terakhir. Tagihan untuk pemakaian listrik di bulan Maret sesuai dengan rata-rata pemakaian tiga bulan sebelumnya. 

Namun, dalam perkembangannya PLN mengubah kebijakan tersebut. 

Pemakaian listrik pada Maret meningkat lantaran pembatasan sosial. Artinya ada kelebihan pemakaian yang belum dibayar karena PLN hanya menagih sesuai rata-rata pemakaian 3 bulan terakhir ketika aktivitas masyarakat masih normal, sebelum diberlakukannya PSBB. 

Kelebihan ini lalu diakumulasikan PLN ke tagihan pemakaian April.

Tagihan April sendiri juga meningkat lantaran ada konsumsi listrik yang bertambah seiring penerapan PSBB. 

Hasilnya, tagihan listrik April melonjak tinggi.

"Misalnya rata-rata pemakaian sebulan 50 kWh, tapi kan sejak Maret itu orang mulai intensitas meninggi, sudah 70 kWh. Jadi real-nya konsumsi mereka 70 kWh tapi kita tagih 50 kWh berarti ada 20 kWh yang belum tertagih. Ini kita carry over ke April. Saat mereka pembayaran, itu ada yang 20 kWh terbawa ke tagihan Mei yang merupakan penggunaan April. Jadi itu 90 kWh. Di sana tercatat 90 kWh plus 20 kWh yang carry over bulan Maret. Jadi muncul tagihan 110 kWh seolah-olah tinggi. Ada konsumsi carry over 20 kWh di Maret dan ada peningkatan 40 kWh di April," jelas EVP Corporate Communication and CSR PLN, I Made Suprateka, dalam konferensi pers virtual, Rabu (6/5/2020). 

"Jadi ini seolah-olah naik dua kali lipat. Inilah yang jadi polemik. Ini kami sadari kami butuh pendekatan yang baik. Pertama, kenaikan tagihan ini bukan karena kenaikan tarif listrik. PLN enggak bisa naikkan tarif listrik semena-mena apalagi saat kondisi ini, tidak populis," jelas Made.

Di samping itu, ada pelanggan yang tagihan listriknya tak normal karena rata-rata pemakaian dalam dalam bulan terakhir sebelum Maret tidak mencerminkan rata-rata yang sebenarnya. Pemakaian pelanggan itu memang meningkat pada Desember 2019 hingga Februari 2020.

Sedangkan PLN menagih sesuai rata-rata tiga bulan terakhir untuk pemakaian Maret. Padahal, bisa jadi pelanggan itu konsumsi listriknya tak banyak di Maret.

"Ada juga kasus di mana rata-rata yang dimuat lebih tinggi dibandingkan Maret, bisa terjadi karena di Desember tinggi sehingga ada kelebihan tagihan," jelas Made.

PLN berjanji akan bertanggung jawab apabila tagihan listrik tak sesuai pemakaian pelanggan. Kelebihan bayar dari pelanggan akan memotong tagihan di bulan selanjutnya.

"Jangan khawatir, itu akan kita perhitungkan, ini kan kita itu kumulatif. Enggak bisa kita hindarkan 1 kWh pun. Jadi sementara itu yang perlu kami sampaikan," tandasnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0