Pascagempa NTB, Lebih Dari 167 Ribu Rumah Warga Terbangun :: Nusantaratv.com

Pascagempa NTB, Lebih Dari 167 Ribu Rumah Warga Terbangun

Proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Lombok dan Sekitar Dilakukan Pascagempa NTB Dengan Magnitudo 7,0.
Pascagempa NTB, Lebih Dari 167 Ribu Rumah Warga Terbangun
Ilustrasi gempa. (Istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com - Lebih dari 167 ribu rumah telah selesai dibangun bagi warga Nusa Tenggara Barat (NTB) yang terdampak gempa dua tahun lalu. Sekitar lebih dari 41 ribu masih dalam proses pengerjaan sampai dengan Minggu (8/3/2020).

Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (9/3/2020), menyebut BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) NTB mencatat 167.873 unit rumah telah selesai dibangun, dengan rincian rumah yang dulunya rusak berat (RB) 52.854 unit, rusak sedang (RS) 26.143 unit dan rusak ringan (RR) 88.876 unit. 

Sedangkan rumah dalam pengerjaan berjumlah 41.390 unit dengan rincian rumah yang dulunya rusak berat 19.902 unit, rusak sedang 5.435 unit dan rusak ringan 16.053 unit.

"Proses pengerjaan rumah ini melalui mekanisme kelompok masyarakat (Pokmas) yang dibantu tenaga fasilitator. Pokmas mencapai 11.502 kelompok, sedangkan tenaga fasilitator mencapai 2.330 personel, yang terdiri dari TNI, Polri dan sipil," ujar Agus, dilansir dari laman bnpb.go.id, Senin (9/3/2020).

Baca Juga: BNPB: 652 Bencana Melanda Indonesia Sepanjang Awal Tahun Hingga Februari 2020

Dikatakannya, pembangunan rumah ini memakai beberapa teknik yang berbeda, seperti rumah instan struktur baja (risba), rumah instan sederhana sehat (risha), rumah instan konvensional (riko) atau rumah instan kayu (rika).

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) Lombok dan sekitar dilakukan pascagempa NTB dengan magnitudo 7,0. Gempa yang terjadi pada 5 Agustus 2018 mengakibatkan lebih dari ratusan ribu rumah rusak. Total korban jiwa meninggal mencapai 564 jiwa dan luka-luka 1.886.

Terpisah, proses rehab-rekon juga sedang berlangsung di Sulawesi Tengah (Sulteng) hingga saat ini. Sampai dengan Minggu (8/3/2020), kemajuan pembangunan rumah yang telah selesai mencapai 2.506 unit atau sekitar 55,42 persen. Pembangunan rumah ini tersebar di Kota Palu sejumlah 943 unit, Kabupaten Sigi 924 unit, Donggala 214 unit dan Parigi Moutong 425 unit.

Sementara itu, total target pembangunan rumah mencapai 4.522 unit, dengan rincian Palu 1.594 unit, Sigi 1.602 unit, Donggala 899 unit dan Parigi Moutong 427 unit. "Distribusi pembangunan rumah ini dilakukan di kawasan rumah warga sebelumnya (insitu) dan juga kawasan relokasi. Total biaya yang diberikan untuk pembangunan target rumah tersebut mencapai Rp235,5 miliar," terang Agus.

Agus mengungkapkan proses rehab-rekon rumah dilakukan dengan beberapa jenis atau tipe rumah seperti di NTB. Pascagempa Sulteng, warga ada yang membangun rumah dengan tipe risha, riko, rika dan risma. "Sebagian besar warga memiliki rumahnya dibangun kembali dengan jenis riko 3.659 unit, risha 694 unit, rika 127 unit dan risma 42 unit," tuturnya.

Baca Juga: Cegah Virus Corona, Ini Ajakan Kepala BNPB Kepada Para Pegawai

Pembangunan rumah insitu dan relokasi di Kota Palu, menurut Agus, dikerjakan melalui sinergi multipihak. Di bawah koordinasi pemerintah daerah setempat, beberapa lembaga, seperti Budha Tzu-Chi, AHA Centre, Arkom maupun pemerintah daerah tetangga, seperti Pemerintah Kota Surabaya menyumbang dalam proses rehab-rekon ini.

"Pemulihan ini dilakukan setelah gempa berkekuatan 7,4 mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah. Gempa waktu itu, 28 September 2018, pukul 18.02 wita, tidak hanya memicu terjadinya goncangan tetapi tsunami dan likuefaksi di beberapa titik, seperti Petobo, Balaroa dan Jono Oge," cetus Agus.

Sementara itu, data BNPB per 5 Februari 2019 mencatat korban meninggal mencapai 4.340 jiwa dan luka-luka 4.438 orang. "Total dampak kerugian akibat bencana ini mencapai Rp2,89 triliun dan kerusakan Rp15,58 triliun," tukas Agus.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0