Minta Seluruh Pihak Bersatu Hadapi Corona, Tito: Ini Perang! :: Nusantaratv.com

Minta Seluruh Pihak Bersatu Hadapi Corona, Tito: Ini Perang!

Menurutnya pemerintah pusat dan daerah harus bersatu agar memenangkan perang tersebut
Minta Seluruh Pihak Bersatu Hadapi Corona, Tito: Ini Perang!
Mendagri Tito Karnavian.

Jakarta, Nusantaratv.com - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengibaratkan mewabahnya virus corona di Indonesia seperti kondisi peperangan. Maka, diperlukan persatuan dan kesatuan seluruh bangsa guna memenangkan perang tersebut.

Baca juga: Rizieq Minta Ormas Islam Bantu Anies Atasi Corona 

"Ini semua kita harus bekerja sama antara pusat dan daerah ini harus sinergi. Karena ini adalah perang. Perang kita menghadapi Covid-19," ujar Tito dalam rapat secara virtual dengan pemerintah daerah, Rabu (8/4/2020). 

Menurut Tito, saat ini cukup banyak negara yang menggunakan istilah 'perang' dalam menangani covid-19. India misalnya menggunakan istilah 'War on covid-19'. Begitu juga dengan Inggris hingga Amerika Serikat. 

"Sudah banyak, war atau perang covid-19. Ini adalah perang pada sesuatu yang tidak bisa kita lihat, virus. Dan tidak mengenal apa targetnya, mau kaya mau miskin, pejabat mau bawahan, laki maupun perempuan, polisi, tentara, siapa pun juga dapat terserang. Dengan menggunakan paradigma 'perang' inilah maka penguatan kesehatan menjadi penting," papar Tito.

Selayaknya perang, kata dia maka diperlukan strategi yang tepat dan terukur. 
Prinsipnya, kesehatan publik tetap diutamakan, tapi juga roda perekonomian sebisa mungkin harus tetap bergerak. Jangan sampai jatuh terlalu dalam. 

Sebagai Mendagri, Tito mengaku telah menerbitkan Permendagri Nomor 20 Tahun 2020 yang memberikan  kewenangan kepada kepala daerah untuk melakukan realokasi dana dan refocussing anggaran. Realokasi dan refocussing anggaran ini  fokusnya pada tiga hal. Pertama, untuk meningkatkan kapasitas kesehatan. 

"Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan publik baik dalam rangka sosialisasi atau  pencegahan," kata dia.

Kemudian, realokasi dan refocussing anggaran juga harus difokuskan untuk pembentukan gugus tugas. Untuk langkah mitigasi, misalnya rapid test atau untuk  pencegahan, seperti pengadaan masker, hand sanitizer dan lain sebagainya. Termasuk untuk peningkatan kapasitas perawatan. Misalnya pengadaan rumah sakit, ranjang perawatan,  tenaga medis serta sarana dan prasarana lainnya. 

"Juga untuk obat-obatan dan vitamin," ucapnya.

Hal kedua yang harus jadi fokus semua pihak, baik pusat dan daerah, kata Tito,  menyiapkan social safety net atau jaring pengaman sosial (JPS). 

Anggaran bisa direalokasi untuk jaring pengaman sosial. Sebab banyak masyarakat yang terpukul, terutama yang kurang mampu. Jika mereka tidak ditangani dan tidak dibantu baik oleh pemerintah maupun non pemerintah, kata Tito, maka krisis kesehatan bisa berubah menjadi krisis ekonomi. Dan krisis ekonomi ini bisa berubah menjadi krisis sosial. Ini tentu tak boleh terjadi, karena berdampak pada krisis keamanan. Akan muncul gangguan keamanan. 

Kemudian fokus yang ketiga, lanjut Tito, membantu dunia usaha tetap bisa bertahan dan ketahanan pangan. Intinya, pemerintah harus terus membantu dunia usaha tetap hidup dan survive. Karena itu, dalam rapat  dengan kalangan dunia usaha, khusus yang terkait dengan produksi, Menteri Perindustrian, Menteri Kelautan dan Perikanan, Kepala BKPM dan Menteri Pertanian sepakat untuk membantu dunia usaha. Prinsipnya,  industri, UMKM yang masih bisa survive harus bisa bertahan dan  peningkatan produksi pangan dengan proteksi kepada petani, nelayan dan peternakan.

"Jadi kalau ada peraturan rekan-rekan kepala daerah yang melarang dunia industri untuk bekerja di pukul rata itu akan memukul dunia industri dan nanti secara tidak langsung akan berdampak kepada sistem secara keseluruhan," tandasnya.

Turut hadir dalam rapat ajaran pejabat eselon I Kemendagri, Ketua KPK, Kepala LKPP, Kabareskrim Ketua BPK RI Agung Firman, dan Ketua BPKP Muhammad Yusuf Ateh. 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0