Konflik Habibie dan Prabowo, Sempat Disebut Presiden Naif :: Nusantaratv.com

Konflik Habibie dan Prabowo, Sempat Disebut Presiden Naif

Prabowo menilai Habibie menghina keluarganya dan Soeharto
Konflik Habibie dan Prabowo, Sempat Disebut Presiden Naif
Prabowo Subianto dan BJ Habibie. (Merdeka.com)

Jakarta, Nusantaratv.com - Prabowo Subianto merasa turut kehilangan atas kepergian Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Sebab ia menganggap pria 83 tahun itu seperti orangtua sendiri. 

Di balik kedukaan Prabowo terhadap wafatnya Habibie, dahulu keduanya sempat berkonflik. Hal itu terjadi semasa Habibie menjadi presiden, sementara Prabowo menjabat Pangkostrad. 

Penyebabnya, Prabowo dicopot Habibie dari jabatannya itu. Keputusan ini diambil satu hari seusai Habibie dilantik menjadi presiden, menggantikan Soeharto yakni pada 23 Mei 1998. 

Keputusan itu diambil Habibie setelah mendengar laporan Panglima ABRI Jenderal Wiranto, mengenai pergerakan pasukan Kostrad secara besar-besaran dari luar kota menuju Jakarta.

Di samping itu, sebagian di antara pasukan tersebut dikatakan sudah 'mengepung' kediaman Habibie di Kuningan dan Istana Kepresidenan.

Usai mengganti Prabowo dengan pejabat sementara yakni Letjen Johny Lumintang, Habibie memperoleh laporan jika Prabowo ingin bertemu.

Habibie mengaku menyimpan kekhawatiran saat menantu presiden kedua RI Soeharto itu ingin bertemu.

"Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah Beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu saya," tulis Habibie dalam buku 'Detik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006). 

Habibie juga khawatir Prabowo membawa senjata ketika menemuinya. Menurut peraturan, siapa pun yang menghadap Presiden tak diizinkan membawa senjata.

"Tentunya itu berlaku untuk Panglima Kostrad. Namun bagaimana halnya dengan menantu Pak Harto? Apakah Prabowo juga akan diperiksa? Apakah pengawal itu berani?" tulis Habibie.

Habibie mengaku bisa saja dirinya menolak Prabowo. Tapi, pendapat Prabowo menurutnya perlu didengar sebab dialog merupakan proses untuk saling mengerti dan memahami.

Pertemuan akhirnya berlangsung pada 23 Mei 1998. Menurut Habibie, percakapan mereka dilakukan dalam bahasa Inggris, sebagaimana ketika mereka biasa bertemu. Dialog itu pun disebut berlangung cukup panas.

"Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto. Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad," kata Prabowo, diungkap Habibie.

Habibie menjawab jika ia tak memecat Prabowo, namun mengganti jabatannya. Usai mencopot dari jabatan Pangkostrad, Prabowo diposisikan sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI.

Prabowo yang menanyakan alasan pencopotan, dijawab Habibie dengan penjelasan jika keputusan itu diambil lantaran adanya gerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, yaitu kediaman Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.

"Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden," ujar Prabowo menjelaskan. 

Habibie pun menampik dengan mengatakan bahwa mengamankan presiden bukan tugas Pangkostrad, tapi Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Terlebih, pergerakan Pangkostrad berlangsung tanpa sepengetahuan Panglima ABRI.

"Presiden apa Anda? Anda naif!" jawab Prabowo kala itu.

"Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang memprihatinkan," timpal Habibie.

Prabowo lalu meminta tetap diizinkan memimpin Kostrad.

"Atas nama ayah saya Profesor Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad," kata Prabowo.

Kendati Soemitro dan Soeharto merupakan dua nama yang selama ini dihormati Habibie, tapi ia menolak permintaan Prabowo. 

"Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya," tutur Prabowo.

"Tidak! Sebelum matahari terbenam semua pasukan sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru! Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja," jawab Habibie.

 "Yang saya kehendaki adalah pasukan saya," balas Prabowo. 

"Ini tidak mungkin, Prabowo," kata Habibie.

Tidak lama berselang, penasihat militer presiden, Letjen Sintong Panjaitan, masuk ke ruangan. Ia meminta Prabowo meninggalkan ruangan, karena Habibie masih memiliki agenda lain, antara lain bertemu Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri.

Sebelum pergi, Prabowo minta Habibie menjadi perantara agar ia dapat berbicara dengan Wiranto. Habibie lalu meminta ajudan, tapi Wiranto tak dapat dihubungi.

Kedua kalinya pintu dibuka, Sintong kembali meminta Prabowo meninggalkan ruangan. Tak lama Prabowo akhirnya berlalu. 

"Saya masih sempat memeluk Prabowo dan menyampaikan salam hormat saya untuk ayah kandung dan ayah mertua Prabowo," tulis Habibie.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0