Kepala BPIP Sebut Agama Musuh Pancasila, Setara Institute: Faktual! :: Nusantaratv.com

Kepala BPIP Sebut Agama Musuh Pancasila, Setara Institute: Faktual!

Menurut Halili, jika dipahami secara teks dan konteks apa yang disampaikan Kepala BPIP kenyataan
Kepala BPIP Sebut Agama Musuh Pancasila, Setara Institute: Faktual!
Kepala BPIP Yudian Wahyudi. (Antara)

Jakarta, Nusantaratv.com - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menyebut agama sebagai musuh terbesar Pancasila.

Setara Institute menilai apa yang disampaikan Yudian benar adanya.

Baca juga: Sebut Agama Musuh Pancasila, Moeldoko: Kepala BPIP Agamanya Tinggi 

"Dalam pandangan Setara Institute, apa yang disampaikan Kepala BPIP faktual adanya," ujar Direktur Riset Setara Institute Halili dalam keterangan tertulis, Kamis (14/2/2020).

"Sebagai pejabat publik, dia secara terbuka mengakui bahwa ada sekelompok orang, yang mereduksi agama, mengatasnamakan agama, dan mengaku mewakili pemeluk agama mayoritas, telah menggunakan agama untuk memusuhi Pancasila," imbuhnya.

Jika dipahami makna dan konteksnya, kata Halili, tak ada yang salah dengan pernyataan Yudian.

"Jika dibaca teks dan konteksnya secara utuh, wacana utama yang dapat diinterpretasi dari pernyataan Kepala BPIP adalah 'Sekelompok minoritas yang mengatasnamakan mayoritas telah menggunakan agama untuk memusuhi Pancasila', juga 'Terdapat sekelompok orang yang menggunakan agama untuk kepentingan politik kelompoknya'," tuturnya.

Berdasarkan data yang dimiliki Setara Institute pada 2007-2018, perihal kondisi kebebasan beragama/berkeyakinan, kelompok-kelompok intoleran telah melakukan sejumlah pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan.

Dalam 12 tahun, telah terjadi 2.400 peristiwa pelanggaran KBB dengan 3.177 tindakan.

"Data pelanggaran tersebut menegaskan bahwa individu dan kelompok intoleran telah nyata-nyata melanggar hak konstitusional warga untuk beragama/berkeyakinan yang dijamin oleh Pasal 28E Ayat (1) serta Pasal 29 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang nilai dasar normatifnya bersumber dari Pancasila sebagai dasar negara dan Sumberdari segala sumber hukum," jelas Halili.

Meski begitu, Setara Institute mengingatkan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu bahwa ruang publik merupakan ruang kontestasi wacana, gagasan, dan narasi. Dalam saluran komunikasi publik yang terbuka, kata Halili Kepala BPIP  seharusnya lebih berhati-hati dalam melontarkan wacana sehingga dialektika publik yang berkembang tidak kontraproduktif terhadap kelembagaan BPIP dan efektivitas kerja-kerja BPIP.

"Daripada melontarkan wacana yang memantik kegaduhan di ruang publik yang melemahkan urgensi pembinaan ideologi Pancasila, sebaiknya Kepala BPIP mengoptimalkan kinerja 'dalam senyap' dan lebih memprioritaskan untuk memobilisasi energi, sumber daya, dan kewenangan institusional BPIP dalam memajukan kesetaraan hak dan kedudukan seluruh warga," papar dia.

"Membangun perilaku kolektif—terutama dimulai dari penyelenggara negara, dan mengembangkan panduan etik tata kelola pemerintahan negara yang inklusif bagi seluruh warga negara Indonesia, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila," sambung Halili.

Lebih lanjut, Setara Institute mengajak masyarakat mewaspadai narasi-narasi yang secara sengaja dibangun oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mendelegitimasi Pancasila. Serta terus mengawal secara kritis kinerja Kepala BPIP dan kelembagaan BPIP agar berkontribusi optimal bagi penguatan kebinekaan dan negara Pancasila.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
1
sad
0
wow
0