Di Tengah Wabah COVID-19, KPK Terima Laporan Gratifikasi Senilai Rp1,8 Miliar :: Nusantaratv.com

Di Tengah Wabah COVID-19, KPK Terima Laporan Gratifikasi Senilai Rp1,8 Miliar

Laporan Gratifikasi yang Diterima KPK Selama Periode Tanpa Tatap Muka Antisipasi Penyebaran COVID-19.
Di Tengah Wabah COVID-19, KPK Terima Laporan Gratifikasi Senilai Rp1,8 Miliar
Ilustrasi Gedung KPK. (Istimewa)

Jakarta, Nusantaratv.com - Di saat seluruh elemen masyarakat Indonesia sedang berjuang melawan wabah virus corona (COVID-19), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menerima laporan gratifikasi secara online dengan nominal mencapai Rp1,8 miliar. Angka tersebut didapat dari laporan gratifikasi berbentuk uang, barang, makanan, hingga hadiah pernikahan.

"Kami mengapresiasi penyelenggara negara yang tetap melaporkan gratifikasi yang diterima di tengah pandemi COVID-19," kata Syarief Hidayat, Direktur Gratifikasi KPK, Jumat (17/4/2020), seperti dilansir dari laman kpk.go.id.

Tercatat, laporan gratifikasi yang masuk selama periode tanpa tatap muka mulai 17 hingga 31 Maret 2020 sebanyak 98 laporan. Dari 98 laporan tersebut, 64 laporan melapor menggunakan aplikasi atau website Gratifikasi Online (GOL), dan sisanya melapor via email.

Jenis laporan paling banyak diterima masih berupa uang/setara uang, yaitu 53 laporan. Selanjutnya berjenis barang 27 laporan, jenis yang bersumber dari pernikahan (uang, kado barang, karangan bunga) 15 laporan, jenis makanan/barang mudah busuk 2 laporan dan fasilitas lainnya 1 laporan.

"Laporan gratifikasi terbanyak selama periode tersebut berasal dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu 20 laporan yang disampaikan melalui aplikasi GOL. Disusul oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 11 laporan melalui email dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) 10 laporan melalui email," tutur Syarief.

Baca Juga: Catat! KPK Awasi Penggunaan Anggaran Penanganan COVID-19 

Untuk pelaporan dari pemerintah daerah, Pemerintah Kabupaten Bulukumba menjadi pemerintah daerah pelapor gratifikasi terbanyak, yaitu 2 laporan selama periode tersebut. Laporan gratifikasi yang diterima KPK selama periode tanpa tatap muka untuk mengantisipasi penyebaran COVID-19 ini, membuktikan bahwa pandemi tidak menjadi alasan untuk tidak melaporkan gratifikasi.

Syarief berharap hal tersebut dapat menjadi contoh bagi penyelenggara negara di daerah lain, untuk tetap melaporkan gratifikasi yang diterimanya di tengah pandemi. Dia juga mengajak penyelenggara negara untuk patuh melaporkan gratifikasi yang diterima sebagaimana ketentuannya diatur dalam Pasal 12B Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Ancaman pidana penerimaan gratifikasi yaitu 4 sampai 20 tahun penjara dan denda dari Rp200 juta hingga Rp1 miliar. Ancaman pidana tersebut tidak berlaku jika penerima gratifikasi melaporkan ke lembaga antikorupsi paling lambat 30 hari kerja sebagaimana ketentuan Pasal 12C.

"Ancaman pidana tidak akan berlaku, jika penerima gratifikasi melaporkan ke KPK paling lambat 30 hari kerja sebagaimana ketentuan Pasal 12C," jelasnya.

Cara pelaporan gratifikasi kini semakin mudah. Pelapor bisa menggunakan aplikasi bernama Gratifikasi Online (GOL) yang bisa diakses melalui website https://gol.kpk.go.id. Aplikasi ini juga bisa diunduh via Play Store untuk pengguna Android dan App Store bagi pemakai sistem operasi iOS. Menggunakan GOL bisa menjadi pilihan tepat melaporkan gratifikasi, ditengah Pandemi COVID-19.

Untuk informasi berapa lama KPK memproses laporan gratifikasi dan jenis gratifikasi apa saja yang tidak perlu dilaporkan ke KPK, penjelasannya bisa didengar di Podkes Kanal KPK. Ayo lapor gratifikasi sebelum 30 hari kerja, terhitung sejak tanggal gratifikasi diterima oleh penerima gratifikasi.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1