Di Abu Dhabi, Menag Fachrul Razi Kampanyekan Moderasi Beragama Pada Diaspora WNI :: Nusantaratv.com

Di Abu Dhabi, Menag Fachrul Razi Kampanyekan Moderasi Beragama Pada Diaspora WNI

Indonesia Diharapkan Dapat Mengadaptasi Model Moderasi Beragama Seperti Uni Emirat Arab.
Di Abu Dhabi, Menag Fachrul Razi Kampanyekan Moderasi Beragama Pada Diaspora WNI
Menag) Fachrul Razi bertemu diaspora WNI di Abu Dhabi, UEA. (Dok. Humas Kemenag)

Jakarta, Nusantaratv.com - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi bertemu diaspora Warga Negara Indonesia (WNI) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada Senin (16/12/2019). Dia menekankan pentingnya penerapan moderasi beragama dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara sebagai modal penting pembangunan bangsa. 

Dikatakan Menag, beberapa negara Islam seperti UEA dan Saudi Arabia saat ini terus mecoba mensinergikan hubungan antara agama dan negara dengan pendekatan yang mutualistik dan moderat. Saudi Arabia, ungkap Fachrul Razi, saat ini terus membangun hubungan yang harmonis antara nasionalisme dan agama. Identitas kebangsaan diletakkan dalam kotak yang sama dengan identitas agama.

Di beberapa negara Islam seperti UEA dan Saudi Arabia, moderasi beragama telah diterapkan dengan baik. Kalau kita tidak menerapkan moderasi beragama dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara, maka kita akan selalu menghadapi singgungan, perselisihan, dan bahkan konflik. Situasi aman dan damai adalah modal penting pembangunan bangsa - ujar Fachrul Razi, seperti dilansir laman Kemenag, Rabu (18/12/2019). 

Baca Juga: Indonesia dan UEA Jajaki Sinergi Pengembangan Digital, Khusus Pendidikan Madrasah

Ditegaskannya, bahwa yang dimoderatkan itu bukan agamanya, tetapi pemahaman manusia atas ajaran agama. Fachrul Razi mengingatkan, pemahaman dan pemikiran radikal tidak tergantung pada level pendidikan. Orang dengan pendidikan tinggi juga bisa terjerumus pada pemikiran radikalisme, jika masukan pemikiran yang diterimanya salah.

Pemikiran radikal tidak tergantung level pendidikan. Meskipun berpendidikan tinggi, kalau software pemikiran yang masuk salah ya bisa salah - lanjut Menag.

Sementara itu, salah seorang WNI yang tinggal di Abu Dhabi, Indra, mengapresiasi inisiasi dan komitmen Kementerian Agama (Kemenag) dalam melakukan pengarusutamaan moderasi beragama di Tanah Air. Menurutnya, moderasi beragama penting dilakukan di Tanah Air. Dia berharap Indonesia dapat mengadaptasi model moderasi beragama ala UEA.

Di UEA ini agama begitu ditata dengan baik dan tegas. Memang perlu moderasi beragama, saya kira - sebut Indra.

Sedangkan Pardede, salah satu WNI Diaspora yang beragama Kristen, juga mengaku senang dengan gagasan penerapan moderasi beragama di Indonesia. Dia mengaku pernah khawatir tidak dapat menjalankan ajaran agama Kristen yang dia anut di awal kedatangannya di Abu Dhabi beberapa tahun lalu.

Saya awalnya khawatir datang ke Abu Dhabi karena ini negara Islam. Namun, saya takjub ternyata di UEA ini ada banyak gereja. Yang menarik adalah tanah untuk lokasi gereja bahkan diberikan oleh pihak Pemerintah UEA - ungkap Pardede.

Baca Juga: Menteri Agama Dari 8 Negara Kumpul di Yordania, Indonesia Beri Usulan Ini

Kembali, Menag sependapat bahwa toleransi di UEA cukup baik. Dia lantas menceritakan pengalamannya berkunjung ke dua shopping mall di Abu Dhabi dan melihat terdapat aneka macam atribut natal di mall. Yang menarik, jelas Menag, dia melihat ada wanita bercadar membeli atribut natal.

Ini saya kira contoh bagaimana umat membangun hubungan kehidupan umat beragama yang toleran dan harmonis - tuturnya.

Menteri asal Banda Aceh ini mengaku, banyak belajar dari model manajemen urusan kehidupan beragama di UEA. Menurutnya, UEA merupakan salah satu contoh negara Islam yang berhasil mensinergikan agama dan negara dengan baik. Kendati demikian, Menag mengakui tidak semua model bisa diadopsi karena perbedaan karakteristik dan budaya masing-masing.

Menag kembali menegaskan pentingnya moderasi beragama untuk dapat dilaksanakan dengan baik. Menurutnya, inti dari moderasi beragama adalah toleransi dan tenggang rasa.

Kita harus toleran kepada pemeluk agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Di sisi lain, bagi penganut agama yang sedang merayakan ibadah juga harus punya sikap tenggang rasa dalam arti tidak boleh berlebihan yang dapat mengganggu ketertiban orang lain. Toleransi dan tenggang rasa merupakan modal sosial dan budaya bangsa kita - tukas mantan Wakil Panglima TNI (1999-2000) itu.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0