Abaikan Jokowi dan Anies, Warga: Kami Takut Corona, Tapi Lebih Takut Gak Punya Uang :: Nusantaratv.com

Abaikan Jokowi dan Anies, Warga: Kami Takut Corona, Tapi Lebih Takut Gak Punya Uang

Urusan perut membuat sebagian masyarakat tetap nekat keluar rumah di tengah mewabahnya corona di Indonesia
Abaikan Jokowi dan Anies, Warga: Kami Takut Corona, Tapi Lebih Takut Gak Punya Uang
Pengemudi ojol, salah satu profesi yang terdampak dari mewabahnya corona di Tanah Air. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Upaya ini dilakukan guna mencegah penyebaran virus corona yang mewabah di Indonesia.

Baca juga: Lawan Corona, Jokowi: Saatnya Kita Kerja, Belajar dan Ibadah dari Rumah 

Senada, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mengajak warga Ibu Kota untuk menghindari kerumunan, dan menerapkan social distancing atau menjaga jarak satu sama lain di ruang publik.

Sebagian masyarakat mengikuti anjuran pemerintah ini. Tapi tak sedikit yang abai.

Seperti yang terjadi pada para pekerja yang mencari rezeki secara harian.

"Kami takut virus corona, tapi lebih takut kalau enggak punya uang," ujar Heran, pekerja swasta yang mengais rejeki secara harian, Jumat (20/3/2020).

Jika tak bekerja atau keluar rumah satu hari saja, dipastikan Heran ia tak memiliki uang untuk menyambung hidup. Kendati memiliki tabungan, menurutnya uang itu tidak seberapa jika dibandingkan saat dirinya harus di rumah selama 14 hari, sementara di sisi lain kebutuhan hidup ia dengan keluarga setiap harinya harus tetap dipenuhi.

"Enggak cukup kalau pakai uang tabungan selama 14 hari di rumah, sementara pengeluaran terus ada. Tidak imbang antara pengeluaran dengan pendapatan, makanya harus tetap keluar," jelasnya.

Heran juga tak yakin bahwa kondisi ini akan pulih kembali dalam 14 hari. Mengingat persoalan serupa juga terjadi di negara-negara dunia, termasuk negara maju sekalipun, namun tak teratasi dalam waktu yang sebentar.

"Tetap mencari rezeki ke luar rumah menjadi solusi. Tapi tetap berhati-hati," jelas warga Jakarta Timur itu.

Senada, pengemudi ojek online (ojol), Mansyur juga nekat tak mempedulikan anjuran pemerintah. Ia tetap melakukan aktivitas mencari uangnya seperti biasa.

"Saya tetap narik, tetap cari uang di luar rumah sejak permintaan pemerintah untuk kerja dari rumah itu," ujar Mansyur.

Seperti Heran, urusan perut menjadi alasannya tetap beraktivitas seperti biasa, tak menggubris bahaya covid-19 yang sudah di depan mata.

Apalagi, kebutuhan primer maupun sekunder pria 36 tahun itu tetap harus dipenuhi, kendati kondisi darurat corona seperti sekarang.

"Saya harus tetap bayar kreditan HP, bayar cicilan motor juga, belum kebutuhan lainnya. Kecuali pemerintah mau bantu, setop juga bayar kreditan, baru saya mau di rumah. Nah ini kewajiban bayar cicilan bulanannya jalan terus," jelasnya.

Baik Mansyur maupun Heran, mengakui bahwa corona yang telah menjangkiti 309 orang di Indonesia dan mencabut nyawa 25 pasien itu, sangat mempengaruhi penghasilan hariannya. Namun tak ada pilihan lain.

Sebab diam atau mengisolasi diri di rumah selama dua minggu bukan solusi terbaik untuk membuat kenyang perut keluarga setiap hari, dan membayar tagihan bulanan.

"Kalau cari uang keluar rumah kan masih dapat lumayan uang. Syukur enggak kena corona, dan bisa tetap dapat uang. Kita pasrah saja, tapi tetap waspada antisipasi," tandas warga Kramat Jati itu.

Sejumlah negara di dunia sendiri memiliki beragam cara agar warganya tetap berada di rumah atau tak tertular maupun menjadi penular corona. Di China misalnya, pemerintah memberikan sejumlah uang agar warga membeli mobil. Tujuannya agar mereka lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi ketimbang transportasi umum, sehingga tak rentan terinfeksi corona.

Sementara di Malaysia, warga yang keluar rumah semasa lockdown atau karantina wilayah di negara itu diberlakukan, akan dihukum penjara dan denda sejumlah uang.

Bahkan di Korea Utara, pemimpin tertinggi negara itu, Kim Jong-Un memerintahkan aparat keamanannya untuk menembak mati warga negara China yang masuk ke negaranya atau sekadar berada di perbatasan, sebagai antisipasi penyebaran virus yang telah membunuh hampir 10 ribu orang di seluruh dunia tersebut.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0