Sesar Lembang Dalam Keadaan Aktif, Warga Diminta Waspada :: Nusantaratv.com

Sesar Lembang Dalam Keadaan Aktif, Warga Diminta Waspada

Guncangan Gempa Berkekuatan 7 SK Di Lombok Berdampak Besar, Meski Gempa Tersebut Terjadi Di 18 Kilometer Barat Laut.
Sesar Lembang Dalam Keadaan Aktif, Warga Diminta Waspada
Infografis Sesar Lembang

Jakarta, Nusantaratv.com - Guncangan gempa berkekuatan 7 SK di Lombok berdampak besar, meski gempa tersebut terjadi di 18 kilometer barat laut.

Gempa berkedalaman 15 kilometer itu merusak sejumlah bangunan dan menewaskan 105 orang.

Kepala Pusat Data Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengatakan, gempa di Lombok dikarenakan adanya aktivitas sesar Naik Flosres (Flosres Arch Thrut).

Aktivitas ini dibangkitkan oleh deformasi bantuan dengan mekanisme penggerak naik. Katanya, di daerah Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yang memanjang.

Berkaca dari bencana gempa yang terjadi di Lombok, warga yang bermukim di Bandung, mulai dari Lembang hingga sejumlah daerah di Kota Bandung, harus waspada. Kawasan padat penduduk di utara Kota Bandung itu ternyata berada di jalur sesar Lembang.

Hasil liputan menjelaskan, sesar ini diprediksi akan menghasilkan gempa berkekuatan 6,8 skala Richter jika bergerak dalam waktu yang tiba-tiba.

Dengan guncangan sebesar itu, kawasan tempat Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, dan keluarganya tinggal ini bisa luluh lantak seperti ketika gempa mengguncang Bantul, Yogyakarta (2006), atau di Pidie Jaya, Aceh (2016).

Ancaman ini makin nyata karena terbukti bahwa sesar ini dalam keadaan aktif.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sepanjang 2016 sampai Maret 2017 setidaknya terdapat 31 gempa yang terjadi di Jabar dan sebagian di antaranya dapat dirasakan dari Lembang.

Dua dari ke-31 gempa itu bahkan berpusat di barat daya Lembang dan Kota Bandung.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG), Sri Hidayati, mengatakan, dari penelitian timnya bersama Geoteknologi LIPI sejak 2015 diketahui keaktifan pergeseran sesar Lembang, yang membentang sepanjang 29 kilometer dari Padalarang di Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga Gunung Manglayang di Kabupaten Bandung ini mencapai antara 3 milimeter hingga 5,5 milimeter per tahun.

Dari penelitian itu juga diketahui bahwa potensi terjadinya gempa bumi tidak hanya disebabkan pergerakan sesar Lembangnya, tapi juga dari penujaman lempengan (subduksi) di wilayah selatan, akibat adanya gerakan antara lempengan tektonik Indoaustralia ke arah lempengan tektonik Euroasia.

Dengan kondisi itu dan merujuk pada topografi rawan bencana yang dibuat PVMBG, efek guncangan gempa bumi akan dua kali lebih kuat.

“Kenapa dia bisa dua kali amplifikasi (penguatan), karena kondisi tanah di Bandung merupakan tanah sedimen yang tebal, hal itu dari sejarah Bandung yang berasal dari cekungan danau purba.

Karena sedimen yang tebal akan memperkuat efek guncangan dari gempa bumi,” ujarnya di kantor PVMBG, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (7/8).

Sri mengatakan, dari stasiun seismik di Cekungan Bandung diketahui, gempa akibat pergerakan dari sesar Lembang pernah beberapa kali terjadi, antara lain di Gunung Halu (2005), Tanjungsari (2010), Ujungberung, dan Lembang (2011).

Namun, dari semua gempa itu, hanya gempa bumi tahun 2011 yang tercatat menimbulkan dampak yang merusak.

Patahan Kecil

Ahmad Solihin, Kepala Sub-Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG, mengatakan, sesar Lembang juga diketahui menghasilkan patahan-patahan kecil yang tidak teridentifikasi.

Sesar Lembang sendiri, ujarnya, adalah patahan lempeng bumi yang aktif akibat subduksi yang melintas ke kawasan Lembang, sekitar 15 kilometer ke utara dari pusat Kota Bandung.

“Secara garis besar, ada tiga sesar yang membentang di Jawa Barat, yakni Sesar Cimandiri, Sesar Lembang, dan Sesar Baribis. Sangat mungkin ada sesar-sesar kecil dalam jumlah banyak yang muncul dari ketiganya dan sampai sekarang belum teridentifikasi,” ujar Ahmad di ruang kerjanya, Senin (7/8).

Ahmad mengatakan, tentu saja yang paling parah terdampak bencana adalah wilayah yang berada di dekat pusat bencana.

Di Sesar Lembang, ujarnya, salah satunya adalah kawasan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler. Dari Cigadung ke titik Sesar Lembang, jaraknya hanya sekitar lima kilometer.

“Tahun 2011 sempat ada gempa berpusat di Lembang. Gempanya kecil, sekitar tiga skala Richter. Tapi waktu itu efeknya terasa hingga ke kawasan Cimuncang. Dinding-dinding rumah saya rusak,” ujar Ahmad.

Kawasan Cekungan Bandung, yang secara geologis merupakan bekas danau Bandung Purba, ujarnya, akan menguatkan guncangan gempa itu. Sebabnya, kontur tanah di Cekungan Bandung cenderung labil karena bekas lumpur dan letusan gunung api.

“Kalau ada guncangan, efeknya ke Cekungan Bandung tentu akan lebih kuat karena kondisi geologisnya itu,” ujar Ahmad.

Patahan-patahan yang belum teridentifikasi akan makin memperparah gempa di Cekungan Bandung lantaran patahan yang kecil juga akan menghasilkan gempa yang skalanya kecil.

Menurut Ahmad, besar kecilnya gempa dihasilkan oleh dekat atau jauhnya jarak antara lempengan pada suatu sesar.

Ahmad mengatakan, jika dilihat dari selatan, Sesar Lembang bergerak ke kiri dan vertikal.

“Ke kiri ke arah Padalarang dan sedikit menghunjam ke bawah,” ujarnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0