Nusantara Pagi: Tinggal di Kandang Kambing Selama 8 Tahun, Pria Paruh Baya Ini Belum Terima Bantuan dari Pemerintah :: Nusantaratv.com

Nusantara Pagi: Tinggal di Kandang Kambing Selama 8 Tahun, Pria Paruh Baya Ini Belum Terima Bantuan dari Pemerintah

Akibat Wabah Virus Corona Membuat Toko Material Tempat Aep Saepullah Bekerja Tak Beroperasi Lagi.
Nusantara Pagi: Tinggal di Kandang Kambing Selama 8 Tahun, Pria Paruh Baya Ini Belum Terima Bantuan dari Pemerintah
Pria paruh baya ini belum terima bantuan. (Dok. NTV)

Jakarta, Nusantaratv.com - Seorang pria paruh baya di Kota Sukabumi, Jawa Barat (Jabar), tinggal sebatang kara. Pria bernama lengkap Aep Saepullah itu tinggal di kandang kambing selama kurang lebih delapan tahun.

Satu bulan terakhir ini, dia menggantungkan hidupnya pada belas kasihan warga, karena pekerjaannya sebagai kuli angkut harus terhenti akibat pandemi virus corona (COVID-19).

Aep tinggal di kandang kambing berukuran 1x1,5 meter yang hanya beralaskan karpet tanpa dinding dan atap yang bocor. Dia tinggal di Kampung Tanjung Sari, RT02/RW012, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jabar.

Tak ada dapur atau kamar mandi, serta tanpa penerangan listrik. Di sebelah tempat tidurnya terdapat satu ekor kambing peliharaan titipan warga. Sebelumnya, Aep pernah tinggal di tempat yang sama, namun tanah yang dia tempati sudah dijual oleh pemiliknya.

Aep awalnya bekerja sebagai kuli angkut barang bangunan, namun wabah virus corona telah membuat toko material tempatnya bekerja tak beroperasi lagi, sehingga dia terkena dampaknya.

Baca Juga: Bansos COVID-19 Sebesar Rp2 Juta Bagi Masyarakat, Ini Faktanya

"Sudah delapan tahun disini, karena tempat yang disana bocor, jadi tinggal disini nggak ada kasur, kalau malam dingin, tapi kalau sudah tidur nggak kerasa. Nggak ada listrik juga, pakai lilin kalau malam, dan kalau masak ada tempat di bawah," kata Aep, dalam tayangan program 'Nusantara Pagi', di Nusantara TV, Rabu (20/5/2020).

Perangkat RT dan RW setempat telah melaporkan kondisi warganya yang hidup di bawah garis kemiskinan ini, namun selama itu Aep tak pernah mendapat bantuan, meski dia warga asli setempat, dan memiliki identitas lengkap.

"Karena tingkat kemiskinan ini, kami sebagai Ketua RT dan RW sering membantu dengan kemampuan kami, di antaranya dengan membagikan sembako seminggu sekali. Dan kemarin itu, untuk Pak Aep ada program dari pemerintah yang memang belum Pak Aep dapatkan. Pak Aep ini mendapatkan panggilan dan undangan untuk mendapatkan kartu keluarga sejahtera karena mungkin terhalang salah satunya adalah masalah administrasinya, kalau untuk KTP asli dia punya, cuma KK-nya hilang, sehingga bantuan belum bisa diterima Pak Aep," terang Dicki Permana, Ketua RW.

Kini, Aep hanya bisa pasrah dan bingung harus kepada siapa lagi dirinya mengadu. Pasalnya, meski teridentifikasi sebagai warga miskin, namun dirinya tak pernah mendapatkan bantuan baik berupa jaring pengaman sosial (JPS), KIS (Kartu Indonesia Sehat) atau yang lainnya dari pemerintah pusat, provinsi maupun kota.

 

 


 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0