Mau Razia LGBT, Wali Kota Depok Diminta Waria Belajar Medis Dulu :: Nusantaratv.com

Mau Razia LGBT, Wali Kota Depok Diminta Waria Belajar Medis Dulu

Menurut Sofie waria bentuknya lelaki namun hatinya perempuan
Mau Razia LGBT, Wali Kota Depok Diminta Waria Belajar Medis Dulu
Wali Kota Depok Muhammad Idris. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Persaudaraan Waria Depok (Perwade) meminta Wali Kota Depok Muhammad Idris memahami secara medis kepada ahlinya, mengenai Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Hal ini dinilai penting dilakukan, sebelum Idris merazia kelompok tersebut. 

Baca juga: Hasil Survei: Mayoritas Masyarakat Tak Puas Kinerja Wali Kota Depok 

Sebab, menurut mereka sulit untuk membuktikan orientasi seksual seseorang, apalagi hal itu bukan pelanggaran hukum dan merupakan ranah privat.

"Kalau yang homo, gay, emang tahu sudah ada label? Paling kalau ada kejadian dia, sodomi anak di bawah umur. Itu mungkin bisa jadi. Baru bisa terkuak dia sebagai gay homo," ujar Ketua Perwade Sofie, Selasa (14/1/2020). 

"Kalau kita sebagai waria enggak gitu sih. Kita kan memperkosa orang enggak ada. Kita yang 'diperkosa'," imbuhnya.

Konsultasi atau kolaborasi dengan pihak medis dinilai penting. Mengingat persoalan LGBT, tak terkecuali kaum waria, terkait dengan masalah psikologis dan fisik yang kompleks.

"Orang dia (waria) nalurinya sudah perempuan. Makanya saya bilang tadi, suruh kolaborasi dengan ahli medis. Jadi waria ini sebenernya bentuknya aja laki, hatinya tuh perempuan. Tidak ingin disakitin," tutur Sofie terisak.

"Wali Kota tuh coba deh mengkaji trans-puan ini, alat vital tuh berfungsi 100 persen apa enggak? Itu aja," lanjutnya. 

Sofie khawatir aturan baru di Depok tersebut membuat kelompoknya semakin jadi target bully atau perundungan, hingga dipersekusi. 

"Persekusinya untuk LGBT, itu nanti terjadi persekusi. Jadi solusinya, jadi memang, selagi memang di Depok aman aja, (orientasi seksual) itu kan personal," jelasnya. 

Sebelumnya, Wali Kota Depok Muhammad Idris geram atas kasus kekerasan seksual sesama jenis yang dilakukan WNI yang juga warga Depok, Reynhard Sinaga, di Manchester, Inggris.

Supaya hal serupa tak terjadi di Depok, Idris berencana membentuk crisis center LGBT dan melakukan razia guna mengurangi perilaku seksual kelompok ini.

Koordinator Subkomisi Pemajuan HAM Komnas HAM Beka Ulung Hapsara menganggap rencana itu merupakan tindakan diskriminatif, merendahkan harkat dan martabat manusia, serta membuka potensi persekusi dan tindakan melawan hukum lainnya.

"Komnas HAM RI meminta Pemerintah Kota Depok untuk membatalkan imbauan tersebut," kata Beka, Senin (13/1/2020). (CNNIndonesia.com) 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0