Heboh Hubungan Sedarah Hingga Punya 2 Anak di Luwu, Sulsel, Baca Faktor Pemicunya! :: Nusantaratv.com

Heboh Hubungan Sedarah Hingga Punya 2 Anak di Luwu, Sulsel, Baca Faktor Pemicunya!

Kakak adik AA (38), BI (31) lakukan hubungan sedarah.
Heboh Hubungan Sedarah Hingga Punya 2 Anak di Luwu, Sulsel, Baca Faktor Pemicunya!
Gempar, warga Luwu, Sulsel dikejutkan dengan adanya hubungan sedarah AA dan BI (Foto: sindonews)

Jakarta, Nusantaratv.com - Hubungan sedarah yang dilakukan kakak adik AA dan BI sudah berlangsung sejak tahun 2016. 

Dari hubungan sedarah, AA dan BI di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan sudah punya 2 orang anak yang kini masing-masing telah berusia 2,5 tahun dan 1,5 tahun.

Saat ini, BI tengah mengandung anak ketiganya.

Hubungan terlarang kakak adik ini berhasil dibongkar warga Desa Lamunre Tengah, Kecamatanan Belopa Utara, Luwu, Sulawesi Selatan.

Pihak kepolisian sektor Belopa dan didukung Satreskrim Polres Luwu sudah berhasil mengamankan dua kakak beradik AA dan BI di kediamannya.

AA mengaku jika dirinya tega tiga kali menghamili adiknya sendiri karena tak mampu menahan nafsu.

Kini, AA sudah ditetapkan sebagai pelaku oleh Polsek Belopa.

Terkait kasus hubungan sedarah yang bukan kali pertama terjadi ini, berikut faktor-faktor yang bisa menjadi pemicu terjadinya hubungan sedarah tersebut menurut  Komisioner Komnas Perempuan Magdalena Sitorus.

1. Tidur di satu tempat setelah anak menginjak usia baligh

Setelah anak menginjak usia dewasa, sangat tidak disarankan agar mereka tidur satu tempat dengan kedua orang tuanya, begitupun dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin. 

 "Inses bisa terjadi karena mereka (bapak-anak atau kakak-adik) tidur di satu ruangan yang sama. Tapi tidak semua kasus ini pemicunya," terangnya. 

Kendati begitu, Magdalena tidak bisa memungkiri bila keterbatasan ekonomi menjadi penyebab satu keluarga tidur di satu ruangan yang sama. "Makanya harus dilihat secara menyeluruh, artinya kondisi sosial-ekonominya. Kalau memang keluarganya memiliki keterbatasan, ya kita gak bisa memaksa tidur di ruang terpisah," papar alumni STISIP Widuri Jakarta ini. 

2. Kurangnya pendidikan seks di usia dini

Magdalena turut menyayangkan segala pembahasan tentang seks di Indonesia masih dianggap tabu. Padahal, ini penting supaya sang anak memiliki pengetahuan agar tidak menghindari perilaku tidak senonoh dengan penuh kesadaran. 

"Harus ada edukasi seks sejak dini. Dijelaskan kalau hubungan seks sedarah itu gak bagus, kalau hubungan seks itu bisa menyebabkan kehamilan. Jangan selamanya dianggap tabu, jadi kalau bicara seks konotasinya adalah pornografi. Edukasi ini penting karena pendidikan seks itu berawal dari rumah," terang dia. 

"Sehingga dianggap pendidikan seks itu tidak perlu. Padahal cara penyampaian kepada sang anak juga memiliki pendekatan yang berbeda," lanjutnya. 

3. Mendapatkan informasi yang tidak benar dari internet

Perkembangan internet menjadi hal yang tidak bisa dibendung. Konsekuensi dari pendidikan seks yang tidak disampaikan kepada sang anak adalah dia akan menerima informasi seputar seks dari internet. 

"Karena di zaman now, anak-anak itu masif menerima informasi dari eksternal. Mereka bisa dapat dengan mudah, dari sosmed misalnya, itu gak terbendung. Padahal, kalau sejak awal dibekali seks sebagai pengetahuan hal semacam ini (inses) bisa dibendung," terang perempuan yang pernah menjadi dosen di Universitas Kristen Indonesia pada tahun 2011-2013.

4. Terlanjur 'ketagihan' konten pornografi

Selaras dengan perkembangan internet, konten pornografi juga bisa menjadi konsumsi sang anak. Bahayanya, pornografi bisa mempengaruhi kerja otak sehingga membuyarkan konsentrasi dan selalu ingin menyentuh segala hal yang berbau pornografi.

"Saya bukan dokter ya jadi agak sulit menjelaskannya, tapi addict dengan pornografi ini bisa jadi pemicu inses. Dia mempengaruhi cara kerja otak, belajar jadi terabaikan dengan pornografi, Di sisi lain, organ reproduksinya sudah aktif tapi dia tidak mengerti untuk mengaturnya. Nah ini yang bisa sampai dipaksa untuk diperkosa," beber Magdalena. 

Kembali kepada kasus di Jambi, Magdalena kurang sepakat bila WA dijatuhi vonis penjara. Faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas harus diperhartikan supaya kedua pelaku yang terlibat diganjar hukuman seadil-adilnya. 

"Karena anak ini sangat bergantung dengan orang-orang di sekitarnya, bisa keluarga atau guru. Kalau orang tua, sang ibu misalnya, kalau tanda kutip dia menganggap hal ini memalukan, sang ibu syok, ini kan menjadi gambaran bagaiamana kejadiannya bisa seperti ini dengan latar belakang seperti ini. Hakim harus melihat pertimbangan di atas," tutupnya.

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0