Bripka Ola, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Masyarakat Buta Aksara di Pedalaman NTT :: Nusantaratv.com

Bripka Ola, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Masyarakat Buta Aksara di Pedalaman NTT

Berawal dari dia yang prihatin akan kondisi masyarakat di wilayah tempatnya bertugas, Bripka Ola akhirnya membangun sebuah rumah belajar yang dikhususkan bagi warga yang menyandang buta aksara
Bripka Ola, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Masyarakat Buta Aksara di Pedalaman NTT
Bripka Krispianus Ola
Bripka Ola, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Bagi Masyarakat Buta Aksara di Pedalaman NTT

Kabupaten Belu, Nusantaratv.com - Kisah inspiratif personil polri kali ini datang dari wilayah timur Indonesia. Tepatnya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ialah Bripka Krispianus Ola, atau disapa Bripka Ola. Pria yang sehari-hari bertugas sebagai Bhabinkamtibmas di desa Kenebibi, Polres Belu, Polda NTT itu telah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa bagi warga penyandang buta aksara.

Berawal dari dia yang prihatin akan kondisi masyarakat di wilayah tempatnya bertugas, Bripka Ola akhirnya membangun sebuah rumah belajar yang dikhususkan bagi warga yang menyandang buta aksara. Rumah belajar itu bernama Rumah Merah Putih.

"Jadi awalnya tahun 2015 saya bertugas di wilayah desa Kenebibi ini, dengan melihat kondisi masyarakat yang kebanyakan dari masyarakat eks Timor Timur, tahun 1999 mengungsi ke sini dari Timor Timur dan tinggal di Indonesia, banyak yang tidak sekolah dan tidak mengenyam pendidikan sama sekali, akhirnya saya mengambil suatu keputusan untuk membentuk komunitas buta aksara."tuturnya saat ditemui di Rumah Merah Putih, di Desa Kenebibi, NTT,  Kamis (5/12/19).

Bahkan katanya, pada tahun 2016 lalu belum ada bangunan rumah putih terasbut. Ia bersama warga masih belajar di bawah pohon.

"Disitu kita belajar, mereka datang bawa kursi sendiri, mejanya tidak ada, mereka tulis di paha. Waktu itu saya bantu mereka belikan buku dan alat tulis. Sehingga sampai tahun 2018 kita akhirnya terbantu dengan adanya rumah merah putih ini, "katanya.

Diakuinya, selama proses mengajar ia banyak mengalami kendala. Salah satunya adalah mengumpulkan masyarakat yang menyandang buta aksara.

"Untuk kendala, mengumpulkan masyarakat itu susah. Karena kebanyakan masyarakat ini kan punya kegiatan masing-masing,".

Namun, dengan adanya pendekatan, kegiatan sambang yang diakukan  Bhabinkamtibmas setiap hari, pada akhirnya mereka datang dengan sendirinya ke rumah merah putih untuk belajar.

"Jadi kesadaran dengan butuhnya pendidikan itu sudah ada ,"tandasnya.

Bripka Ola bahkan turun langsung untuk mengajar para penyandang buta aksara 2016 hingga 2018.

"Sekarang ini ada peningkatan sekolah kesetaraan. Kemarin yang buta aksara sempat sekolah cuma bisa mengenal abjad dan angka, tapi itu tidak mendapat ijazah. Tapi yang sekarang 2019 ini ada sekolah kesetaraan paket a, B, dan C. Jadi dia bisa dapatkan ijazah SD, SMP, dan SMA".

Hingga kini katanya, proses belajar mengajar masih digabung untuk segala usia. Artinya, ia belum membagi-bagi kelas khusus untuk anak-anak, remaja, dewasa,  dan lansia.

"Untuk sekarang kita masih gabung karena sebelumnya kurikulumnya masih kewirausahaan sehingga masih gabung. Tapi untuk ke depan ada planning untuk dipisahkan. Dan akan kita berikan materi sesuai paketnya masing-masing, "tandasnya.

Dijelaskan Bripka Ola, Rumah merah putih ini tidak hanya untuk belajar mengajar saja. Akan tetapi juga untuk kegiatan-kegiatan lain di desa Kenebibi. Seperti ada kegiatan kerohanian, agama, rapat, dan lain-lain.(Cal)

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
1
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
1