Bongkar Peredaran TPPU, Polres Mataram Raih Penghargaan dari BI :: Nusantaratv.com

Bongkar Peredaran TPPU, Polres Mataram Raih Penghargaan dari BI

Polres Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) meraih penghargaan dari Bank Indonesia lantaran berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Pemalsuan Uang (TPPU)
Bongkar Peredaran TPPU, Polres Mataram Raih Penghargaan dari BI
Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia wilayah NTB, Achris Zarwani

Mataram, Nusantaratv.com - Polres Mataram,  Nusa Tenggara Barat (NTB) meraih penghargaan dari Bank Indonesia lantaran berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Pemalsuan Uang (TPPU) yang beredar di wilayah Mataram.

Penghargaan diberikan langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, Achris Zarwani kepada Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam.

"Bank Indonesia provinsi NTB pagi ini secara formal menyampaikan penghargaan kepada institusi polri dalam hal ini adalah Polres Mataram dan juga kepada para petugas yang telah bekerja sama untuk ungkap kejahatan TPPU, "ujar Achris Zarwani di Mapolres Mataram pada Kamis, (24/10/19).

Achris menjelaskan, penghargaan ini merupakan implementasi dari perjanjian kerjasama yang lebih tinggi antara Mabes Polri dengan BI, BIN, dan Kejaksaan Agung terkait dengan implementasi UU mata uang.

" Ini adalah implementasi UU mata uang. Dimana TPPU ini menjadi perhatian kita bersama. Mengapa? karena mata uang adalah simbol kedaulatan negara kita, "tandas Achris.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada jajaran Polres Mataram lantaran sudah berhasil mengungkap kasus tersebut.

"Saya mengucapkan terima kasih terutama pada Pak Kapolres yang sudah mengungkap kasus TPPU ini. Semoga ke depankasusnya tidak ada lagi. Dan pengungkapan ini dapat memberi efek jera pada para pelaku dan masyarakat akan lebih berhati-hati, ".

Sementara itu,  menurut Kapolres Mataram AKBP Saiful Alam, kasus TPPU ini sendiri berlangsung pada awal 2019. Yang mana pihaknya banyak menerima laporan warga mengenai peredaran uang palsu.

"Awal tahun 2019. Jadi dari hasil pantauan kami dan ada laporan dari masyarakat beredar uang palsu lalu kita cek ke lapangan. Namun ini agak berbeda,  biasanya 1:10 artinya uang asli satu juta, lalu membeli uang palsu 10 juta.  Tapi dalam kasus itu justru uang asli 1 juta membeli uang palsu 3 juta. Dilihat secara kasat mata, keasliannya lebih tinggi dan dari pengakuan tersangka uang ini dari Jawa dan di bawa ke Lombok senilai seratus juta. Barang bukti kami amankan 5 juta. Jadi kami sampaikan ke masyarakat masih ada 95 juta uang palsu yang beredar, "papar Alam.

Alam juga mengatakan, bahwa pembuatan uang palsu ini dapat dikatakan terencana dan professional. Bahkan, perbankan pun akan terkecoh jika tidak hati-hati mengeceknya.

"Karena sangat mirip, bahkan pihak bank pun kalau tidak hati-hati bisa terkecoh. Dalam hal diberi penghargaan, tentu kami ucapkan terima kasih banyak kepada pihak BI, "tutupnya.(Cal)
 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0