Belajar Toleransi, Anggota DPRD Undang Pemerintah dan Masyarakat Dharmasraya ke NTT :: Nusantaratv.com

Belajar Toleransi, Anggota DPRD Undang Pemerintah dan Masyarakat Dharmasraya ke NTT

Bojer berharap mereka sadar, bahwa ada masyarakat Dharmasraya atau Sumbar juga di NTT
Belajar Toleransi, Anggota DPRD Undang Pemerintah dan Masyarakat Dharmasraya ke NTT
Wilayah Kabupaten Dharmasraya. (Net)

Jakarta, Nusantaratv.com - Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Boni 'Bonjer' Jebarus, menyesalkan adanya 40 umat Katolik di Jorong Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar), tidak bisa merayakan natal. 

Baca juga: Ketua DPR Minta Pemerintah Pinjamkan Kantor untuk Perayaan Natal 

Mereka tak bisa merayakan natal menyusul surat larangan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat.

Menurut Bonjer, pemerintah daerah seharusnya hadir untuk menjembatani kasus ini dengan mencarikan solusi. 

Bonjer bahkan mengundang pemerintah daerah dan masyarakat Kabupaten Dharmasraya agar melakukan studi banding dan belajar tentang toleransi di Provinsi NTT.

"Mereka harusnya belajar cara bertoleransi seperti di NTT, yang selalu bersama-sama menyukseskan setiap kegiatan keagamaan dari semua agama yang ada," ujar Bonjer, Selasa (24/12/2019).

"Kamu harus datang dan lihat, cara kami memperlakukan saudara kami yang beda agama di NTT. Jangan cuma pemimpinnya yang datang. Kalau bisa sekalian dengan rakyatnya, termasuk tokoh agama di Kabupaten Dharmasraya," imbuhnya.

Masyarakat dan pemerintah Dharmasraya, kata Bonjer seharusnya paham bahwa warga Sumatera Barat juga tersebar di seluruh Indonesia termasuk di NTT.

Warga Sumatera Barat beragama Muslim yang tinggal di NTT, menurutnya selama ini diperlakukan dengan baik saat merayakan acara keagamaan.

"Jangan egois memikirkan dirinya di sana, sementara banyak warga Sumatera Barat yang menyebar ke seluruh Indonesia, termasuk NTT. Bagaimana itu jika diberlakukan di Indonesia atau daerah lainnya, maka selesailah Indonesia ini," jelasnya. 

Bonjer menduga, pelarangan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat berdasarkan tekanan.

Ia pun meminta Menteri Agama melihat sumber masalah dan mengambil tindakan. Jangan membiarkan kesepakatan itu menjadi dasar pelarangan, tapi mencari tahu apa yang terjadi di balik kesepakatan.

Bonjer juga meminta pemerintah daerah menyiapkan satu gedung khusus untuk umat Katolik agar bisa merayakan natal.

"Umat Katolik di Kabupaten Dharmasraya adalah rasul-rasul masa kini. Kuatkan imanmu, sebab dulu kekristenan awal juga di bawah tekanan. Percaya saja, benih iman yang tumbuh dihimpit oleh batu karang pun, akan tumbuh menjadi benih yang kuat," tutur Bonjer.

Sebelumnya, sejumlah umat Katolik di Dharmasraya, Sumatera Barat, tak dapat merayakan natal secara bersama-sama karena sebuah aturan.

Mereka tak diizinkan menggelar misa dan perayaan natal oleh pemerintah Nagari Sikabau (setingkat desa) di rumah ibadah sementara.

Karena aturan tersebut, 40 umat Katolik di Jorong Kampung Baru, Nagari Sikabau, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, memutuskan tak merayakan natal. 

Pemerintah Kabupaten Dharmasraya telah menawarkan fasilitas kendaraan agar mereka dapat melakukan misa di gereja di Kota Sawahlunto atau tempat lain, tetapi umat menolaknya. (Kompas.com) 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
1
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0